TAK banyak yang tahu, bahwa dari ladang-ladang tropis yang tersebar di nusantara, tumbuh buah kecil yang menyimpan harapan besar, jeruk. Di balik aromanya yang segar dan rasanya yang menyegarkan, jeruk menjadi saksi kerja keras petani Indonesia. Diam-diam buah ini mengantarkan nama negeri ini masuk ke jajaran pemain utama di kancah global.
Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) 2024 produksi jeruk dunia, Rusia menjadi penghasil terbesar dengan 782 ribu metrik ton per tahun. Disusul Amerika Serikat (460 ribu metrik ton), Uni Eropa (454 ribu metrik ton), dan Vietnam (373 ribu metrik ton). Inggris, Kanada, dan Ukraina menyusul dengan angka masing-masing 307, 175, dan 155 ribu metrik ton.
Indonesia sendiri berada di peringkat kedelapan dunia dengan produksi mencapai 115 ribu metrik ton, melampaui Filipina (107 ribu metrik ton) dan Thailand (92 ribu metrik ton). Posisi ini menunjukkan bahwa jeruk Indonesia memiliki potensi besar. Meskipun belum sepopuler negara-negara lain yang lebih dulu dikenal sebagai raksasa agrikultur. (https://www.fas.usda.gov/sites/default/files/2025-02/citrus.pdf,USDA, 2025)

Di dalam negeri, jeruk masih didominasi untuk konsumsi lokal. Jenis jeruk seperti jeruk keprok, siam, dan manis banyak ditemukan di pasar tradisional hingga swalayan. Namun ironisnya, Indonesia juga masih mengimpor jeruk dari negara lain. Terutama untuk jenis dan kualitas tertentu yang belum banyak dibudidayakan di dalam negeri. Hal ini menunjukkan adanya celah antara produksi dan preferensi pasar, serta tantangan dalam meningkatkan kualitas dan daya saing jeruk lokal di mata konsumen.
Fakta bahwa Indonesia menjadi penghasil jeruk kedelapan dunia adalah capaian yang membanggakan. Namun capaian ini baru permulaan. Dengan teknologi pertanian dan distribusi yang merata, produksi jeruk bisa lebih optimal. Jika didukung kebijakan yang pro-petani, jeruk Indonesia berpeluang menembus pasar dunia.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin