Harga Plastik Dunia Melonjak 40 Persen: Imbas Konflik Asia Tengah 

kaltimes.com
9 Apr 2026
Share
Harga plastik global melonjak tajam hingga 40 persen mencapai Rp20,9 juta per ton akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang menghambat distribusi minyak bumi sebagai bahan baku utama polipropilena./Detik.com

TUMPUKAN botol plastik dan kemasan makanan kini menjadi barang mewah bagi para pelaku industri kecil. Suara mesin pabrik mulai teredam oleh kekhawatiran akan meroketnya biaya operasional yang tidak menentu.

Kenaikan harga bahan baku industri kembali menjadi pusat perhatian publik pada awal tahun ini. Harga plastik meningkat tajam hingga menembus angka 40 persen dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini berakar dari konflik geopolitik di Asia Tengah yang mengganggu rantai pasok energi global secara langsung.

Dampak Gangguan Jalur Distribusi Global

Konflik di wilayah strategis seperti Selat Hormuz telah menghambat distribusi minyak mentah dunia. Perlu diketahui bahwa bahan baku plastik seperti polipropilena merupakan produk turunan langsung dari minyak bumi. Oleh karena itu, gangguan pada sektor energi otomatis memicu kelangkaan pasokan bahan baku plastik di pasar internasional.

Berdasarkan data harian dari Trading Economics, tren harga plastik global menunjukkan pergerakan dinamis. Pada 2 Februari 2026, harga polipropilena berada di kisaran Rp14,7 juta per ton, lalu turun tipis menjadi Rp14,5 juta per ton pada akhir Februari.

Memasuki awal Maret 2026, harga naik menjadi sekitar Rp15 juta per ton. Lonjakan terbesar terjadi pada 23 Maret 2026 saat harga mencapai Rp20,9 juta per ton, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya tensi konflik di kawasan Asia Tengah.

Setelah puncak tersebut, harga terkoreksi menjadi Rp20,2 juta per ton di akhir Maret dan turun tipis ke Rp19,9 juta per ton pada 1 April 2026. Pada 6 April 2026, harga kembali naik sedikit ke kisaran Rp20 juta per ton.

Efek Domino bagi Industri dan Konsumen

Lonjakan harga tersebut kemudian merambat ke sektor industri dan konsumen. Kenaikan lebih dari 30–40 persen dalam waktu singkat menekan biaya produksi, terutama bagi UMKM yang bergantung pada kemasan plastik. Akibatnya, harga produk seperti botol minuman dan wadah makanan berpotensi ikut naik di tingkat konsumen.

Menanggapi kondisi ini, pemerintah mulai melakukan diversifikasi pasokan dengan mencari alternatif dari Afrika, India, dan Amerika. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan langkah ini membutuhkan waktu karena pergeseran sumber pasok tidak dapat dilakukan secara instan, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia.

Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri dan perwakilan luar negeri untuk membuka akses pemasok baru. Hal ini penting karena gangguan distribusi turut terjadi di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand, bahkan sebagian produsen mengalami force majeure. Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan tetap dijaga agar produksi dalam negeri kembali stabil.

Ketegangan global, termasuk keterlibatan Amerika Serikat di jalur vital, menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga langsung memengaruhi biaya logistik dan harga kebutuhan sehari-hari. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin