DERU nafas memburu, kaki menjejak aspal dengan irama konstan, sementara warna-warni baju lari menyemarakkan jalanan ibu kota. Dalam kancah maraton lari, sepatu bukan lagi alas kaki biasa; ia adalah simbol kecepatan, teknologi, dan, seringkali, gengsi. Sepasang sneakers bermerek global, yang harganya setara upah bulanan, menjadi penanda status di kalangan komunitas pelari.
Belakangan ini, tren olahraga atletik berupa lari maupun jalan santai semakin populer di Indonesia. Riset Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia (RI) menyebutkan hampir 3 dari 10 publik memilih olahraga ini sebagai gaya hidupnya.
Lonjakan minat ini ikut mendorong kebutuhan sepatu olahraga. Namun, masyarakat sepertinya belum menaruh perhatian lebih untuk mengutamakan orisinalitas barang.
Faktanya, lebih dari setengah publik memilih membeli sneakers palsu, menurut survei Litbang Kompas. Untuk mendapatkan data ini, Litbang Kompas mewawancarai 512 responden dari 64 kota di 38 provinsi Indonesia. Mereka melaksanakan survei ini pada 14-17 Juli 2025.
Faktor Pendorong Selain Pengangguran
Alasan utama publik Indonesia membeli sneakers palsu adalah karena harganya yang murah, yang dipilih oleh 40,5 persen responden. Hal ini memperlihatkan bahwa faktor ekonomi masih menjadi pertimbangan utama, apalagi di tengah tren harga sneakers bermerek yang melangit.
Sementara itu, 10,3 persen responden mengaku tidak tahu sneakers yang mereka beli ternyata palsu. Data ini membuktikan kurangnya kemampuan publik membedakan antara produk asli dan tiruan.
Sebanyak 6,4 persen publik membeli sneakers palsu karena bentuk dan tampilannya menyerupai produk asli. Faktor penampilan masih memiliki daya tarik kuat di kalangan konsumen yang menginginkan gaya dengan biaya lebih murah.
Faktor lain, seperti mengikuti tren, dipilih 1,7 persen responden. Alasan pengaruh pertemanan dan sekadar ingin mencoba menyusul dengan proporsi yang sama, yaitu 1,2 persen.
Namun, masih ada publik yang merasa kesulitan mendapatkan sepatu olahraga asli hingga akhirnya membeli yang palsu; faktor ini dipilih 1 persen publik. Alasan kenyamanan menempati posisi paling rendah, hanya 0,3 persen responden memilih faktor ini.
Menariknya, sebanyak 37,3 persen publik atau hampir 4 dari 10 orang menyatakan tidak pernah membeli sneakers palsu. Angka positif ini menunjukkan adanya kelompok konsumen yang tetap setia pada produk orisinal, serta berkontribusi pada keberlangsungan industri sepatu olahraga resmi, baik lokal maupun global.

Risiko Tersembunyi dan Alternatif Gaya
Keputusan membeli sneakers palsu membawa risiko serius, meskipun harganya murah. Kerugian utama menimpa konsumen melalui kualitas bahan yang rendah yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan kaki. Selain itu, konsumen secara tidak langsung mendukung aktivitas ilegal yang merugikan produsen resmi dan negara dari sisi pajak.
Namun, tampil gaya tidak harus berarti mengorbankan etika atau membahayakan kesehatan kaki. Konsumen punya alternatif cerdas. Mereka bisa mendukung merek-merek lokal yang menawarkan desain orisinal, kualitas yang baik, dan harga lebih terjangkau.
Pilihan lain, konsumen dapat memburu produk preloved (bekas) yang terjamin keasliannya dengan harga miring di pasar sekunder yang terpercaya. Dengan membangun gaya personal yang tidak bergantung pada logo mahal, konsumen bisa tetap tampil menonjol tanpa harus menyokong rantai produk ilegal.
Pada akhirnya, sepatu yang kita kenakan bukan sekadar alas kaki, melainkan cerminan dari nilai yang kita pegang sebagai konsumen.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin