
SETIAP obrolan politik di media sosial sering memicu debat panjang. Dari isu kesetaraan hingga kebijakan publik, anak muda Indonesia kini tampil lebih vokal.
Spektrum politik membantu memetakan cara orang memandang urusan negara, masyarakat, dan keadilan. Sederhananya, spektrum ini seperti garis yang menunjukkan posisi seseorang dalam melihat perubahan.
Ada dua kutub utama. Pertama, progresif, yaitu kelompok yang percaya perubahan perlu dilakukan agar masyarakat lebih adil dan setara. Misalnya, mereka mendukung subsidi pendidikan atau kesehatan dari pemerintah karena bisa membantu banyak orang sekaligus. Bagi mereka, negara harus turun tangan agar semua warga mendapat kesempatan yang sama.
Kedua, konservatif, yaitu kelompok yang lebih suka mempertahankan tradisi dan aturan yang sudah ada. Mereka menekankan peran individu. Contohnya, mereka lebih percaya bahwa setiap orang harus berusaha sendiri untuk sukses daripada bergantung pada subsidi. Prinsip mereka sederhana: jika seseorang rajin bekerja, maka hasil akan mengikuti, tanpa perlu banyak campur tangan pemerintah.
Pemetaan Pandangan Anak Muda
Survei Kawula17 memberi gambaran terbaru soal posisi anak muda dalam spektrum politik. Lembaga riset independen ini melibatkan 1.342 responden usia 17–35 tahun pada 10–17 Juli 2025. Proses pengumpulan data dilakukan secara daring dengan metode Computer-Assisted Self Interviewing (CASI).
Sebanyak 60 persen responden berasal dari Jawa, sisanya dari pulau lain. Dari sisi demografi, 51 persen laki-laki, dengan mayoritas berusia 26–30 tahun.
Hasil survei menunjukkan setengah anak muda Indonesia berpandangan progresif. Dari total responden, 14 persen mengaku sangat progresif, 35 persen progresif, dan 40 persen cukup progresif. Angka ini menggambarkan keinginan mayoritas anak muda agar negara lebih aktif mengurus rakyatnya.

Mereka percaya isu seperti kemiskinan, pengangguran, dan akses pendidikan harus diselesaikan lewat kebijakan pemerintah, bukan hanya usaha individu. Misalnya, banyak anak muda lebih mendukung beasiswa gratis untuk siswa miskin daripada sekadar mengandalkan kerja keras keluarga. Sikap ini menunjukkan konsistensi mereka pada nilai kesetaraan dan keadilan sosial.
Kelompok Konservatif yang Kecil
Di sisi lain, hanya 1 persen anak muda yang sangat konservatif dan 10 persen cukup konservatif. Kelompok ini lebih menekankan pentingnya tradisi, keluarga, atau usaha pribadi dalam menyelesaikan masalah. Misalnya, dalam menghadapi pengangguran, mereka lebih percaya pada wirausaha mandiri ketimbang menunggu program bantuan pemerintah.
Temuan ini menegaskan bahwa generasi muda lebih progresif dalam melihat masa depan politik. Tantangannya, bagaimana suara kritis mereka bisa tersalurkan secara nyata di ruang politik formal.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin