Gangguan Mental Dialami 60 Persen Mahasiswa Indonesia Akibat Kurang Tidur

kaltimes.com
21 Sep 2025
Share

SUASANA ruang kelas sering dipenuhi wajah lelah mahasiswa. Banyak yang mengaku kesulitan beristirahat karena tumpukan tugas, ujian, hingga aktivitas luar kampus. Tantangan kesehatan mental kini menjadi isu serius di kalangan mahasiswa.

Global Student Survey 2025 dari Chegg mencatat tekanan akademik dan gaya hidup sebagai faktor utama. Survei daring ini berlangsung pada 1–23 Oktober 2024, melibatkan 11.706 responden berusia 18–21 tahun di 15 negara, dengan masing-masing 500–1.002 mahasiswa.

Secara global, 58 persen mahasiswa menilai kesehatan mentalnya baik. Sebanyak 13 persen menyebutnya buruk, sementara sisanya memilih posisi netral.

Di Indonesia, 59 persen mahasiswa menilai kondisi mentalnya baik. Namun, 11 persen menyebut kesehatan mentalnya buruk, menunjukkan masih ada kelompok rentan yang butuh perhatian.

Kurang tidur muncul sebagai masalah terbesar. Sebanyak 60 persen mahasiswa jarang tidur cukup karena tugas kuliah, ujian, dan aktivitas lain. Burnout akademik juga melanda 56 persen mahasiswa. Mereka merasa jenuh dengan kelas dan tugas, lalu kehilangan semangat belajar jika situasi berlarut.

Sebanyak 42 persen responden mengaku gagal menerapkan gaya hidup sehat. Mereka sering melewatkan olahraga atau pola makan teratur karena kesibukan. Gangguan kecemasan menimpa 35 persen mahasiswa. Selain itu, 33 persen kesulitan menjalin pertemanan baru, dan 11 persen merasa dosen tidak menghormati mereka, yang makin menambah tekanan psikologis.

Data ini menunjukkan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Kesehatan mental mahasiswa harus mendapat perhatian serius, agar kualitas pendidikan tidak hanya berfokus pada nilai akademik tetapi juga kesejahteraan generasi muda. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati