Forbes Catat 5 Konglomerat Terkaya Indonesia, Kekayaan Capai Rp 492 Triliun

kaltimes.com
15 Sep 2025
Share

GEMERLAP kekayaan para konglomerat selalu menarik perhatian. Di balik angka fantastis itu, ada kisah bisnis yang tumbuh dari tambang, perbankan, hingga pusat data digital.

Indonesia memang menjadi rumah bagi sejumlah individu yang berhasil mengukir kesuksesan luar biasa di dunia bisnis dan investasi. Selain itu, Real-Time Billionaires List Forbes mencatat pergerakan kekayaan mereka secara harian, mengikuti fluktuasi pasar saham dan valuasi perusahaan swasta.

Prajogo Pangestu kini menempati posisi puncak orang terkaya di Indonesia. Pemilik Barito Pacific Group ini menguasai bisnis petrokimia, energi, dan properti. Kekayaannya pada 14 September 2025 mencapai Rp 492 triliun (US$32,8 miliar).

Sementara itu, di posisi kedua ada Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources. Perusahaan tambang batu bara ini menjadi raksasa energi yang menopang kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Total kekayaan Low Tuck Kwong mencapai Rp 381 triliun (US$25,4 miliar).

Berikutnya, R. Budi Hartono menempati urutan ketiga dengan kekayaan Rp 300 triliun (US$20 miliar). Ia bersama saudaranya menguasai Djarum, produsen rokok kretek terbesar di Indonesia, sekaligus memegang saham utama Bank Central Asia (BCA).

Michael Hartono kemudian berada di posisi keempat dengan kekayaan Rp 288 triliun (US$19,2 miliar). Sama seperti Budi, ia mengendalikan bisnis Djarum dan BCA, sehingga keduanya membentuk salah satu duet konglomerat paling kuat di Asia Tenggara.

Sementara itu, urutan kelima ditempati Otto Toto Sugiri, pendiri Data Center Indonesia (DCI). Ia membangun DCI sebagai penyedia pusat data terbesar di Indonesia, menopang infrastruktur digital dan ekonomi berbasis internet. Kekayaan Otto Toto Sugiri kini mencapai Rp 201 triliun (US$13,4 miliar).

Dengan demikian, daftar ini menegaskan bahwa sumber kekayaan para konglomerat Indonesia semakin beragam. Energi fosil, perbankan, rokok, hingga data digital tetap beRp eran besar membentuk peta kekayaan nasional.

Namun, Indonesia menghadapi dilema besar. Di satu sisi, kesuksesan para miliarder menampilkan potensi ekonomi yang luar biasa. Di sisi lain, ketimpangan sosial dan tantangan lingkungan masih menuntut perhatian serius. Dulu Indonesia diperjuangkan, kini giliran kita menjaganya. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin