Dunia Sudah Muak: 9 dari 10 Warga Turki, Spanyol, Jepang hingga Indonesia Tak Percaya PM Israel

kaltimes.com
11 Jul 2025
Share

KEKEJAMAN yang terus dilakukan Israel di tanah Palestina dan wilayah sekitarnya kian mengikis empati dunia. Serangan yang tak pandang bulu, menghantam warga sipil, anak-anak, hingga fasilitas medis, telah menempatkan Perdana Menteri Israel sebagai salah satu sosok paling dipertanyakan di panggung global saat ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel menggencarkan agresinya ke Gaza dan wilayah Tepi Barat, menewaskan ribuan warga sipil. Di saat dunia belum pulih dari horor tersebut, ketegangan dengan Iran pun kembali memanas. Serangan udara ke fasilitas militer Iran menuai kecaman internasional dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Data hasil survei rilisan Pew Research Center mengungkap pandangan publik di 24 negara, yang sebagian besar tidak percaya bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan hal yang benar. Di Turki, tingkat ketidakpercayaan mencapai 94 persen, mencerminkan solidaritas kuat masyarakat Turki terhadap Palestina. 

Sentimen serupa terlihat di Spanyol (84 persen), Jepang (78 persen), serta Indonesia dan Jerman (masing-masing 76 persen). Negara-negara ini dikenal memiliki sejarah protes publik yang vokal terhadap kekerasan militer Israel, serta media yang aktif mengangkat pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi.

Di Inggris, 68 persen responden mengaku tidak percaya pada PM Israel, meskipun negara ini secara historis menjadi sekutu erat Israel. Di Amerika Serikat, hanya 32 persen publik yang percaya pada PM Israel. Padahal, negara ini dikenal sebagai sekutu terdekat Israel, namun lebih dari separuh warganya kini tak lagi percaya. Ini menunjukkan adanya pergeseran opini di dalam negeri akibat masifnya laporan pelanggaran HAM.

Namun, masih ada beberapa negara yang menunjukkan tingkat kepercayaan lebih tinggi, seperti Kenya (54 persen percaya), Nigeria (50 persen) dan India (34 persen). Di negara-negara ini, opini publik cenderung dipengaruhi oleh isu-isu geopolitik domestik, kepentingan strategis, atau akses informasi yang terbatas. Di Kenya dan Nigeria, misalnya, hubungan bilateral dan kerja sama teknologi dengan Israel bisa menjadi faktor penentu. Sementara di India, kedekatan militer dan kepentingan kontra-terorisme ikut membentuk narasi yang berbeda.

Dari data ini terlihat jelas bahwa PM Israel semakin kehilangan tempat di hati publik global. Dukungan terbatas hanya tersisa di beberapa negara dengan kepentingan strategis tertentu. Dunia mulai bersuara lebih keras, dan kepercayaan publik menjadi indikator penting bahwa agresi militer bukan lagi bisa dibenarkan dengan alasan keamanan semata.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin