Data Fluktuatif Stunting Kaltim: Turun Tajam di 2023, Naik Lagi di 2024

kaltimes.com
18 Jun 2025
Share

DI BALIK senyum balita, ada harapan akan masa depan yang sehat dan kuat. Namun di Kalimantan Timur, harapan itu masih diuji oleh bayang-bayang stunting yang belum sepenuhnya hilang.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting di Kalimantan Timur mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Pada 2019, angkanya masih cukup tinggi di angka 28,09 persen. 

Meski sempat menurun ke 22,8 persen di 2021, lonjakan kembali terjadi pada 2022 sebesar 23,9 persen. Perbaikan signifikan tampak pada 2023, saat angka stunting berhasil ditekan hingga 17,46 persen. Namun, tahun 2024 menunjukkan kenaikan kembali menjadi 22,2 persen. Hal ini menandakan bahwa perjuangan belum selesai.

Dikutip dari Kaltim Post, Kepala Seksi Gizi Kesjaor Dinas Kesehatan Kaltim, dr. Resvianur, menjelaskan bahwa penurunan stunting memang sudah berjalan. Hanya saja tantangan gizi balita masih kompleks. Penyebabnya bukan sekadar kurang makan, tapi juga infeksi, sanitasi buruk, rendahnya edukasi gizi, hingga terbatasnya tenaga kesehatan.

Banyak puskesmas di Kaltim hanya memiliki satu petugas gizi yang merangkap tugas lain, dan kader gizi belum semuanya aktif dan terlatih. Meski program seperti pemberian tablet tambah darah, makanan tambahan balita, Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT) dan Makan Bergizi Gratis (MBG), telah dilaksanakan, koordinasi lintas sektor dinilai belum maksimal. Upaya edukasi pun terus digencarkan melalui kelas ibu hamil dan grup WhatsApp, agar pesan gizi sampai sejak dini.(Masalah Stunting di Kaltim Perlahan Menurun tapi Masalah Lainnya Muncul, Ini Ternyata Penyebabnya, Kaltim Post, 2025)

Perbaikan data pemantauan tumbuh kembang balita, kunjungan rumah, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah konkret yang terus diupayakan. Namun yang terpenting, seperti ditegaskan dr. Resvianur, stunting bukan hanya isu medis, melainkan persoalan pembangunan manusia secara utuh. Untuk itu, kerja kolaboratif semua pihak sangat diperlukan demi memastikan anak-anak Kaltim tumbuh sehat, cerdas, dan penuh potensi.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin