BAGI banyak orang, komika adalah sumber tawa dari panggung ke panggung. Kini, mereka juga jadi magnet di layar lebar. Bukan hanya memancing tawa lewat mikrofon, para komika Indonesia berhasil menarik jutaan penonton bioskop lewat akting mereka. Beberapa bahkan membintangi film-film yang masuk daftar paling laris sepanjang sejarah perfilman Tanah Air.
Salah satu contohnya adalah film horor populer KKN di Desa Penari yang tayang pada 2022. Dibintangi oleh Fajar Nugraha, komika jebolan kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 6. Film ini meraih rekor lebih dari 10 juta penonton, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Meski bukan bergenre komedi, kehadiran Fajar memberi warna tersendiri lewat karakter pendukung yang segar di tengah nuansa mencekam.
Tahun 2024, film “Agak Laen” menggemparkan jagat sinema lokal. Menggabungkan komedi dan horor dalam satu kemasan yang nyeleneh tapi relate, film ini sukses meraih 9,1 juta penonton. Menariknya, para pemeran utamanya adalah para komika jebolan komunitas Stand Up Indo Medan, Bene Dion, Oki Rengga, Indra Jegel dan Boris Bokir. Chemistry keempatnya terasa natural dan menghidupkan cerita, jadi salah satu faktor utama kesuksesan film ini.
Nama legendaris Indro Warkop, bagian dari trio Warkop DKI yang menginspirasi banyak komika muda, juga masih punya daya tarik kuat. Ia tampil di “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” (2016) yang ditonton lebih dari 6,8 juta orang. Sosok Indro tetap menjadi ikon komedi nasional, menjembatani generasi lama dan baru.
Indro Warkop juga ikut membintangi film “Miracle in Cell No. 7” (2022) bersama Rigen Rakelna dan Indra Jegel, dua komika muda yang semakin aktif di dunia film. Drama keluarga penuh haru ini berhasil menarik 5,8 juta penonton. Hal ini membuktikan komika pun mampu membawakan peran dramatis dengan baik.
Tahun 2024, kolaborasi Indro, Rigen, dan Indra Jegel berlanjut dalam film “Kang Mak from Pee Mak”, yang ditonton hampir 4,9 juta orang. Meski berbasis adaptasi, kehadiran para komika memberi sentuhan lokal yang kuat dan menciptakan keunikan tersendiri dibanding versi aslinya.

Kesuksesan film-film ini menunjukkan bahwa kehadiran komika di layar lebar bukan sekadar tambahan lucu-lucuan. Mereka adalah bagian penting dari narasi yang mampu menghidupkan karakter, menarik simpati dan membuat cerita terasa lebih dekat dengan penonton. Komika tak lagi hanya tampil di atas panggung kecil dengan satu mikrofon. Kini, mereka juga hadir di layar lebar, ditonton jutaan orang di seluruh negeri.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin