DI BALIK sorak penonton dan nyala kembang api tiap laga internasional, ada mimpi besar yang sedang dirajut, menjadikan Indonesia panggung utama sepak bola Asia. Kali ini, bukan soal mencetak gol di lapangan, tapi unjuk kesiapan sebagai tuan rumah Piala Asia 2031.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mencatat sejarah baru setelah menerima tujuh Pernyataan Minat (Expression of Interest/EoI) dari negara-negara anggotanya untuk menjadi tuan rumah ajang sepak bola tertinggi Asia. Indonesia melalui PSSI turut serta dalam daftar kandidat. Selain Indonesia, terdapat Australia, India, Korea Selatan, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta tawaran bersama dari Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan.
Dilansir oleh Kompas, Presiden AFC, Shaikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, menyebut ini sebagai rekor tertinggi dalam sejarah modern AFC. Ia memuji antusiasme luar biasa dari para negara peminat yang dinilai mencerminkan prestise Piala Asia yang semakin menguat. Hal ini disebabkan kesuksesan edisi sebelumnya di Qatar. (Indonesia Maju jadi Kandidat Tuan Rumah Piala Asia 2031, Kompas, 2025)
Turnamen Piala Asia 2023 meraih 7,9 miliar impresi digital dan tayang di 160 negara, menjadikannya salah satu kompetisi sepak bola paling luas jangkauannya. Proses bidding kini berlanjut ke tahap evaluasi dokumen penawaran, dengan keputusan final dijadwalkan pada Kongres AFC tahun 2026.
Sebagai bentuk keseriusan, Indonesia mencantumkan empat stadion utama dalam dokumen penawaran. Jakarta International Stadium, dengan kapasitas 82 ribu penonton, menjadi salah satu venue unggulan. Tak jauh dari sana, Stadion Gelora Bung Karno yang ikonik. Stadion ini berkapasitas 76,1 ribu.
Wilayah timur Indonesia diwakili oleh Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya dengan kapasitas 50 ribu kursi. Sementara Sumatera turut ambil bagian lewat Stadion Utama Sumatera Utara yang mampu menampung lebih dari 25,7 ribu penonton. Keempat stadion ini menjadi simbol kesiapan infrastruktur yang kini menjadi tolok ukur utama dalam penilaian AFC.

Jika terpilih, Indonesia tidak hanya akan menggelar pertandingan, tetapi juga mengukir tonggak sejarah baru dalam peta sepak bola Asia. Kesempatan ini bukan semata tentang menjadi tuan rumah, tetapi membuktikan bahwa Indonesia mampu menyambut dunia dengan wajah terbaiknya di dalam dan luar lapangan. Harapan kini bergantung pada proses yang berjalan. Jawabannya ada di tahun 2026.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin