TUBUH yang sehat merupakan modal utama bangsa. Sayangnya, semangat berolahraga tidak selalu bertahan lama.
Olahraga memainkan peran vital dalam kesehatan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan mewajibkan mata pelajaran olahraga. Ini berlaku dari jenjang SD hingga SMA.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, mayoritas pelajar tercatat aktif berolahraga. Namun, angka ini menurun drastis ketika peserta didik masuk jenjang pendidikan tinggi. Ini menandakan perubahan gaya hidup signifikan.
Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan kelompok paling aktif berolahraga. Persentasenya mencapai 88,61 persen pada 2024. Selanjutnya, ada jenjang SMA/SMK dengan 87,12 persen. Diikuti jenjang SD dengan proporsi 86,69 persen.
Angka tinggi ini menunjukkan olahraga masih menjadi aktivitas fisik rutin. Selain faktor usia, kurikulum pendidikan turut mendorong tingginya partisipasi. Kurikulum mewajibkan pelajaran jasmani dan kegiatan ekstrakurikuler.
Namun, persentase peserta didik yang berolahraga turun tajam di perguruan tinggi. Hanya 46,69 persen mahasiswa mengaku berolahraga. Artinya, lebih dari separuh mahasiswa Indonesia tidak melakukan aktivitas rutin.

Fenomena ini mengindikasikan pergeseran prioritas. Mahasiswa dihadapkan pada jadwal kuliah padat. Tugas akademik menumpuk, dan gaya hidup sedentari (tidak aktif bergerak) meningkat. Berbeda dengan sekolah, kampus tidak mewajibkan mata kuliah olahraga. Akibatnya, kesadaran berolahraga menjadi kurang.
Apalagi, mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Mereka berada dalam usia produktif. Penting untuk menerapkan pola hidup sehat guna mencegah berbagai penyakit. Justru, mahasiswa yang sehat memiliki daya saing lebih tinggi.
Maka dari itu, institusi pendidikan tinggi perlu memperhatikan keseimbangan ini. Kampus dapat memperluas akses fasilitas olahraga. Mereka juga harus menyediakan komunitas aktivitas fisik. Selain itu, program kebugaran dapat diintegrasikan dalam kegiatan non-akademik.
Data ini menyerukan pentingnya kesadaran kolektif. Kampus dan mahasiswa harus berkolaborasi menciptakan lingkungan sehat. Kesehatan fisik merupakan investasi jangka panjang. Generasi muda perlu menjaga aset paling berharga ini.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin