Air yang Tak Kunjung Surut, Samarinda Kembali Menangis

kaltimes.com
28 Mei 2025
Share

HUJAN deras tak hanya mengguyur atap rumah, tapi juga menggulung ketenangan warga Samarinda menjadi kepanikan. Genangan air yang terus naik perlahan menjelma menjadi banjir. Akibatnya, aktivitas harian terganggu, akses jalan tertutup, dan keselamatan warga terancam.

Bencana banjir kembali melanda Samarinda pada Selasa (27/5/2025) dini hari hingga pagi hari. Dilaporkan Antara News, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur kota sejak pukul 04.40 hingga 08.30 Wita. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda mencatat, akibat hujan tersebut, genangan air mencapai ketinggian hingga 50 sentimeter di sejumlah titik.(Hujan lebat akibatkan banjir dan longsor di Samarinda – ANTARA News, Antara News, 2025)

Wilayah yang terdampak mencakup area padat lalu lintas dan lokasi penting di kota. Berdasarkan laporan BPBD Samarinda, sejumlah titik banjir yang cukup mencolok di antaranya berada di Jalan DI Panjaitan. Tepatnya di depan Terminal Lempake dan depan Sekolah Bunga Bangsa. Selain itu, di kawasan Simpang Alaya.

Genangan juga ditemukan di sejumlah persimpangan krusial seperti simpang tiga Air Hitam (di bawah jalan layang), simpang Mugirejo, simpang Gunung Kapur, simpang tiga Kebun Agung, simpang empat Ringroad Jalan P. Suryanata, simpang Remaja Jalan Yani, hingga simpang Jalan Pramuka. 

Selain itu, banjir turut melanda Jalan Anggrek Perum Talangsari, Jalan Kebaktian, Jalan Kemerdekaan, Jalan Antasari, dan Jalan Gajah Mada, termasuk di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur serta Pasar Pagi.

Data dari BPBD menunjukkan bahwa banjir di Samarinda bukan sekadar kejadian musiman tanpa jejak. Selama empat tahun terakhir, jumlah pengungsi akibat banjir naik-turun dengan angka mencolok. Pada 2021 tercatat sebanyak 1.708 orang mengungsi karena banjir. 

Angka ini menurun drastis pada 2022 menjadi 608 orang, bahkan mencapai nol kasus pada 2023. Angka ini memberi harapan akan perbaikan kondisi. Namun harapan itu runtuh di 2024, ketika lonjakan tajam kembali terjadi. Sebanyak 5.899 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat banjir.

Kejadian ini menunjukkan bahwa persoalan banjir di Samarinda belum benar-benar dituntaskan. Lonjakan pengungsi dari nol pada 2023 menjadi hampir enam ribu di 2024 menunjukkan krisis mitigasi. Tahun 2025 pun sudah mencatat beberapa kejadian banjir. Harapannya, jumlah korban tidak melonjak lebih tinggi dari tahun lalu.(*)Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin