TANGIS, panik, dan ketakutan mewarnai langit Petropavlovsk-Kamchatsky, Rusia, Rabu pagi itu. Suara bangunan bergetar dan tanah yang bergemuruh membuat warga berhamburan menyelamatkan diri.
Gempa besar berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang kawasan tersebut pada 31 Juli 2025. Guncangan ini langsung memicu perhatian global, sebab wilayah Kamchatka dikenal aktif secara tektonik. Gempa serupa juga pernah terjadi di lokasi ini pada 1952, dengan kekuatan yang hampir sama.
Berdasarkan laporan dari EarthquakeList, kawasan Pasifik memang menjadi salah satu jalur gempa paling aktif di dunia. Sejak tahun 1900, banyak gempa besar tercatat mengguncang wilayah sekitar Cincin Api Pasifik.
Gempa terbesar yang pernah tercatat terjadi di Temuco, Chili, tahun 1960 dengan magnitudo 9,5. Disusul oleh Meulaboh, Indonesia, tahun 2004 (M 9,3), dan Anchorage, Amerika Serikat, tahun 1964 (M 9,2). Jepang juga mengalami gempa besar di Ishinomaki tahun 2011 dengan magnitudo 9,1.
Menariknya, Indonesia tercatat dua kali dalam daftar 10 besar ini. Keduanya terjadi di Meulaboh dan menyebabkan tsunami besar yang melanda banyak negara di Asia Tenggara dan Selatan.
Negara lain yang masuk dalam daftar ini adalah Ekuador dan Chili (M 8,8), Laut Bering (M 8,7), dan kini Rusia kembali masuk dengan gempa terbarunya di Kamchatka.

Daftar ini menunjukkan bahwa gempa bumi besar bukan peristiwa langka. Aktivitas lempeng tektonik di Cincin Api Pasifik terus menghasilkan potensi bencana. Dengan semakin padatnya penduduk di wilayah pesisir, dampaknya bisa semakin fatal.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami harus jadi perhatian serius. Data dan sejarah jadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja, dan kita harus siap menghadapinya.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin