Selamat Tinggal Standar Kulit Putih: ZAP Beauty Index 2024 Ungkap Fakta

kaltimes.com
6 Jul 2025
Share

CANTIK bukan lagi sekadar tentang warna kulit. Bagi banyak perempuan Indonesia, cantik bukan soal penampilan luar semata. Ini tentang merawat diri, percaya diri, dan merasa nyaman dengan diri sendiri.

Selama bertahun-tahun, standar kecantikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia Barat. Terutama anggapan bahwa kulit putih adalah simbol utama dari kecantikan. Standar ini punya akar sejarah panjang, termasuk masa kolonialisme, ketika warna kulit sering dikaitkan dengan kekuasaan dan status sosial.

Penelitian Glenn (2008) menunjukkan bahwa kulit putih sering dilambangkan sebagai kemurnian dan keindahan perempuan, sementara kulit gelap dianggap maskulin dan kurang menarik. Narasi ini kemudian diperkuat oleh iklan dan produk kecantikan yang didominasi oleh negara-negara Barat.

Artikel ilmiah oleh Mady dkk. (2022) dengan judul , “A Whiter Shade of Pale”: Whiteness, Female Beauty Standards, and Ethical Engagement Across Three Cultures menyebutkan standar kecantikan global yang berpusat di Amerika Serikat dan Eropa telah membentuk persepsi perempuan di seluruh dunia, terutama dalam hal warna kulit. Hal ini terjadi karena dominasi berkelanjutan negara dan budaya kulit putih.

Namun seiring waktu, perkembangan teknologi dan media sosial mulai mengikis persepsi usang bahwa “cantik harus putih”. Generasi muda kini lebih terbuka terhadap ragam bentuk dan warna kecantikan.

Laporan ZAP Beauty Index 2024 mengungkap bahwa standar kecantikan di kalangan perempuan Indonesia kini mulai bergeser. Mayoritas responden (30,7 persen) menilai bahwa wajah bersih dan mulus adalah elemen utama dalam mendefinisikan kecantikan.

Penampilan yang well-dressed atau berpakaian rapi menempati posisi kedua dengan 16,4 persen, disusul oleh kulit cerah dan glowing (16,3 persen). Menariknya, percaya diri menjadi faktor penting berikutnya dengan 14,6 persen, menunjukkan bahwa kecantikan kini juga menyentuh aspek psikologis.

Beberapa responden juga menganggap tubuh sehat dan fit (10,1 persen) serta perasaan bahagia (6,3 persen) sebagai bagian dari kecantikan. Hanya 1,1 persen yang masih menjadikan kulit putih sebagai indikator utama. Angka ini yang menandakan pergeseran pandangan yang cukup signifikan.

Temuan ini memberi harapan bahwa perempuan Indonesia semakin berani mendefinisikan cantik dengan cara mereka sendiri. Bahwa kecantikan bukan lagi soal menyerupai standar luar, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Terlepas dari warna kulitnya, bentuk, dan cerita.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin