DI BALIK keriuhan bel sekolah dan jadwal pelajaran yang padat, jutaan pelajar Indonesia diam-diam meluangkan waktu tambahan untuk belajar di luar jam sekolah. Baik di rumah, bimbel, maupun tempat lainnya. Rata-rata, mereka menghabiskan lebih dari satu jam per hari untuk mengejar ketertinggalan atau memperdalam pemahaman materi.
Padahal secara aturan, waktu belajar formal sudah cukup panjang. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 menetapkan delapan jam belajar per hari selama lima hari kerja, atau total 40 jam seminggu. Namun, bagi banyak pelajar, waktu itu belum cukup. Mereka merasa perlu menambah jam belajar agar bisa mencapai target akademis.
Data Badan Pusat Statistik dalam laporan Statistik Penunjang Pendidikan 2024 menunjukkan pola yang konsisten. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin panjang waktu belajar mandiri. Mahasiswa mencatat rata-rata 83,26 menit per hari di luar kuliah. Di bawahnya, siswa SMA/SMK menghabiskan 79 menit, SMP 70,72 menit, dan SD 62,8 menit. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akademik meningkat seiring jenjang pendidikan. Materi yang lebih kompleks dan tuntutan prestasi lebih tinggi menjadi pemicunya. Selain itu, anak-anak usia SD cenderung memiliki daya fokus lebih pendek dibanding remaja dan dewasa.
Karakteristik pelajar yang belajar di luar jam sekolah juga dipengaruhi jenis kelamin. Pada 2024, pelajar perempuan tercatat lebih banyak terlibat dalam kegiatan belajar tambahan (69,66 menit) dibandingkan laki-laki (66,46 menit). Perempuan cenderung lebih rajin belajar karena dorongan etos belajar yang tinggi dan harapan terhadap akses pendidikan yang lebih baik.

Perbedaan terlihat pula dari jenis sekolah. Siswa di sekolah negeri lebih banyak yang belajar di luar jam sekolah (69,60 menit) dibandingkan siswa swasta (64,01 menit). Dari sisi tempat tinggal, semangat belajar tambahan terbilang merata. menittase pelajar perdesaan yang belajar di luar jam sekolah mencapai 68,64 menit, sedikit lebih tinggi dari perkotaan (67,69 menit). Ini menunjukkan bahwa meskipun infrastruktur dan akses sumber belajar berbeda, motivasi untuk belajar tetap kuat di seluruh wilayah.

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa belajar bukan sekadar soal hadir di kelas. Banyak pelajar Indonesia meluangkan waktu ekstra demi masa depan. Diam-diam, mereka membuktikan bahwa semangat belajar tak mengenal batas waktu.
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin