Indonesia Peringkat 7 Soal Stres Publik di ASEAN: Bukan yang Terburuk, Tapi Belum Ideal

kaltimes.com
19 Jun 2025
Share

DALAM kesibukan harian, tak sedikit masyarakat yang memendam beban mental dalam diam. Di balik tawa dan rutinitas yang berjalan, tingkat stres diam-diam menjadi masalah yang terus membayangi. 

Menurut survei CEOWorld Magazine bertajuk The World’s Most And Least Stressed Countries 2025, Indonesia berada di peringkat ketujuh dari sebelas negara ASEAN dalam hal tingkat stres publik, dengan skor 51,64 dari skala 0 hingga 100. Perlu dicatat, dalam metode ini, skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah. Artinya, semakin rendah skor suatu negara, semakin tinggi tingkat stres yang dialami warganya.(Ranked: The World’s Most And Least Stressed Countries, 2025 – CEOWORLD magazine, CEOWorld Magazine, 2025)

Myanmar menempati peringkat terbawah dengan skor 34,8. Hal ini menunjukkan stres publik tertinggi di kawasan ASEAN. Negara ini masih berkutat dengan krisis politik dan militer yang berkepanjangan, yang turut memperburuk kondisi sosial dan ekonomi. Timor Leste (36,96) dan Laos (39,6) juga berada di posisi bawah, mencerminkan tekanan hidup yang berat di tengah pembangunan ekonomi yang masih tertinggal.

Selanjutnya terdapat Filipina (47,54), Kamboja (43,81) dan Vietnam (49,98) juga tergolong negara dengan tingkat stres tinggi. Faktor seperti ketimpangan sosial, urbanisasi cepat, dan tekanan hidup di kota besar menjadi penyumbang utama. 

Indonesia mencatat skor 51,64, berada di atas negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Skor ini menunjukkan bahwa tingkat stres publik di Indonesia lebih rendah dibanding mereka. Posisi Indonesia yang berada di tengah mencerminkan kondisi stres yang tergolong moderat. Artinya, tidak paling tertekan, tapi juga belum ideal. Urbanisasi yang cepat, tekanan ekonomi dan pengaruh media sosial tetap menjadi faktor nyata yang mengancam kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Di sisi atas, Thailand (58,85) dan Malaysia (66,58) menunjukkan tingkat stres yang relatif lebih rendah. Brunei (78,05) dan Singapura (85,28) menempati posisi tertinggi dalam hal ketenangan publik. Singapura dikenal sebagai negara dengan tekanan hidup tinggi. Namun, sistem layanan publik yang efisien dan jaminan sosial yang kuat tampaknya mampu meredam stres warganya.

Kesimpulannya, meski Indonesia bukan yang paling tertekan, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Stres publik bukan sekadar angka. Nilai ini representasi kualitas hidup dan kesejahteraan mental yang mendalam. Meningkatkan kesadaran, memperkuat layanan kesehatan jiwa dan membangun lingkungan sosial yang suportif adalah langkah penting. Sebagai modal untuk bisa bertahan dan hidup dengan sehat secara mental.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin