DI BALIK harapan orang tua dan siswa terhadap masa depan yang cerah, tersembunyi keresahan yang tak kunjung reda. Pendidikan seharusnya memberi keadilan dan kepastian, namun yang terasa justru sebaliknya, bingung, ragu dan lelah menyesuaikan diri.
Permasalahan dalam dunia pendidikan Indonesia bukan hal baru. Kurikulum berubah terlalu cepat, kebijakan terasa tergesa dan pelaksanaannya kerap tak sejalan dengan kondisi di lapangan.
Di tengah berbagai eksperimen sistem, siswa, guru, dan orang tua seperti menjadi penonton dari panggung besar yang terus berganti lakon. Bukan hanya soal mutu, tapi juga arah kebijakan yang sering kali tak memberi ruang bagi mereka yang terdampak langsung untuk bersuara.
Survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa 32 persen responden menilai kebijakan pendidikan terlalu dipengaruhi oleh kepentingan politik. Temuan ini mencerminkan keresahan publik bahwa arah kebijakan kerap ditentukan oleh agenda kekuasaan, bukan kebutuhan peserta didik atau kualitas pendidikan itu sendiri.(Rapuhnya Politik Kebijakan Pendidikan, Kompas, 2025)
Sementara itu, 27,2 persen responden menganggap kebijakan yang ada tidak tepat sasaran. Artinya, meski banyak program telah diluncurkan, implementasinya dianggap belum menyentuh akar persoalan yang nyata di lapangan. Guru, siswa, dan sekolah masih berjuang dengan masalah mendasar yang belum terselesaikan.
Sebanyak 17,5 persen responden menyebut adanya terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat. Perubahan yang terlalu cepat dan terus-menerus ini justru menimbulkan kebingungan. Baik bagi tenaga pengajar maupun siswa, yang harus terus beradaptasi tanpa sempat memahami sistem sebelumnya.
Ada pula kekhawatiran akan pengaruh bisnis dalam pendidikan, sebagaimana diungkap oleh 10,3 persen responden. Bagi sebagian masyarakat, pendidikan kini terlihat lebih sebagai lahan komersial daripada sarana pemerataan pengetahuan.
Selain itu, 6,2 persen responden mengeluhkan kurangnya pelibatan masyarakat, menunjukkan bahwa kebijakan masih dibuat secara top-down tanpa mendengar suara mereka yang terdampak langsung.

Temuan-temuan ini menegaskan bahwa krisis kepercayaan terhadap arah kebijakan pendidikan semakin nyata. Jika pendidikan terus menjadi arena tarik-menarik kepentingan tanpa keberpihakan pada siswa dan guru, maka masa depan generasi muda Indonesia bisa jadi taruhannya.(*)Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin