Picasso Tak Pernah Mati: Saat Warna dan Luka Dihargai Triliunan

kaltimes.com
2 Jun 2025
Share

TAK semua lukisan sekadar warna di atas kanvas. Ada yang menyentuh jiwa, menantang logika dan menembus batas waktu. Dalam sapuan warna yang mengguncang, seorang pelukis menumpahkan emosi dan mengajak penikmat masuk ke labirin imajinasi dan luka.

Pria itu lahir di Málaga, Spanyol, pada tahun 1881. Dikenal sebagai Pablo Picasso, ia bukan hanya seorang seniman, melainkan revolusioner dalam dunia seni. Bersama Georges Braque, ia menciptakan aliran Kubisme yaitu sebuah pendekatan radikal yang mematahkan cara pandang konvensional terhadap bentuk dan ruang. 

Picasso adalah simbol dari ketakutan, keinginan, dan pergolakan batin manusia. Lukisannya adalah catatan sejarah visual dari abad ke-20, di mana perang, cinta, kematian dan absurditas hidup bersatu dalam satu bingkai. Yale Alumni Academy menyatakan, setiap karyanya tak hanya dilihat, tapi dialami. Karena itu, setiap lukisan Picasso bukan hanya benda seni, melainkan warisan budaya dunia dan investasi yang tak ternilai.(https://alumniacademy.yale.edu/sites/default/files/2021-06/6-23%2010PicassoWrightEssay.pdf, Yale Alumni Academy)

Di dunia lelang seni, nama Picasso terus mengisi halaman utama dengan nilai fantastis yang kerap mengalahkan logika. Salah satunya, Les Femmes d’Alger (Version “O”), bagian dari seri penghormatan terhadap Eugène Delacroix, terjual seharga US$179,4 juta (sekitar Rp2,5 triliun) di Christie’s New York pada 2015. Lukisan ini tak hanya menampilkan teknik kompleks, tapi juga mengangkat kritik atas orientalisme.

Foto: Les Femmes d’Alger
Sumber: Les Femmes d’Alger — Wikipédia

Karya lain, Nude on the Sculptor’s Tray, potret Marie-Thérèse Walter, terjual US$106,5 juta (sekitar Rp1,5 triliun). Sentuhan intim dan warna sensual khas Picasso menjadikannya buruan kolektor papan atas.

Dari periode Rose Period, Garçon à la pipe dan Fillette à la corbeille fleurie masing-masing terjual di atas US$100 juta (lebih dari Rp1,4 triliun). Dengan warna lembut dan ekspresi melankolis, dua karya ini memperlihatkan sisi emosional Picasso yang jarang.

Foto: Garçon à la pipe
Sumber: Garçon à la pipe — Wikipédia

Tak kalah ikonik, Femme à la résille yang menampilkan Dora Maar dalam gaya kubis terjual seharga US$67,4 juta (sekitar Rp944 miliar). Sedangkan Femme au béret et à la robe quadrillée, potret lain dari Marie-Thérèse, menembus angka US$68,7 juta (sekitar Rp962 miliar).

Melihat nilai-nilai fantastis itu, tak heran jika lukisan Picasso tak sekadar dianggap sebagai karya seni, melainkan simbol status, komoditas investasi, bahkan dokumen sejarah. Di antara segala perubahan zaman dan selera, Picasso tetap menjadi konstan dalam hal nilai dan kekuatan artistik. Karyanya tak hanya menghiasi dinding museum dan galeri, tapi juga menciptakan percakapan tentang nilai seni dan kemanusiaan. Di balik cat yang menempel di kanvas, tersimpan emosi, revolusi, dan kerentanan yang masih berbicara kepada siapa pun yang berani menatapnya lebih dalam.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin