CHINA terus meningkatkan intensitas diplomasi ekonomi dengan negara-negara Asia Tenggara. Melalui kunjungan beruntun para pemimpinnya, Beijing ingin memperkuat posisi di kawasan yang selama ini berkontribusi besar terhadap surplus perdagangannya.
Seperti dilaporkan Kompas, Perdana Menteri China, Li Qiang, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Indonesia dan Malaysia pada akhir Mei 2025. Lawatan ini bertepatan dengan agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-China-GCC yang akan berlangsung di Kuala Lumpur pada 26-27 Mei mendatang. Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian dialog tingkat tinggi antara ASEAN dan negara-negara Teluk (GCC). (https://www.kompas.id/artikel/petinggi-china-terus-sambangi-asean?open_from=Section_Berita_Utama, Kompas, 2025)
Pemerintah Tiongkok ingin memperluas kerja sama dagang yang saling menguntungkan dengan mitra-mitra di Asia Tenggara dan kawasan Teluk. Ia juga menegaskan pentingnya mempertahankan sistem perdagangan global yang terbuka dan tidak diskriminatif.
Salah satu topik penting yang akan dibawa Li Qiang dalam pertemuan tersebut adalah kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat. Isu ini menjadi perhatian utama dalam berbagai forum internasional yang dihadiri pejabat tinggi China, karena dinilai merugikan stabilitas perdagangan global.
Sebelum kunjungan Li, Presiden China Xi Jinping lebih dulu melakukan perjalanan diplomatik ke Kamboja, Malaysia, dan Vietnam pada pertengahan April. Dalam pertemuan dengan para pemimpin negara tersebut, Xi mendorong penguatan integrasi ekonomi kawasan sekaligus menolak keras kebijakan dagang proteksionis, terutama dari pihak AS.
Sementara itu, pada awal Mei lalu di Milan, Italia, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral China melakukan pertemuan trilateral dengan perwakilan dari ASEAN, Jepang, dan Korea Selatan. Fokus pembahasan adalah pembentukan mekanisme keuangan regional yang tangguh untuk menghadapi gejolak ekonomi global.
China menyatakan minat untuk mengimpor lebih banyak barang dari negara-negara ASEAN. Langkah ini disebut sebagai wujud komitmen Beijing dalam menciptakan hubungan dagang yang lebih seimbang. Meski begitu, data perdagangan yang dilampirkan oleh Kompas menunjukan selama satu dekade terakhir (dari 2015 hingga 2024) justru China mencatat keuntungan besar dalam relasi dagangnya dengan kawasan ini.
Nilai surplus perdagangan China terhadap ASEAN dalam periode tersebut tercatat mendekati 1 triliun dollar AS. Artinya, nilai ekspor China ke ASEAN jauh lebih besar dibandingkan nilai impornya dari kawasan tersebut. Khusus untuk Indonesia, neraca perdagangan dengan China hanya menunjukkan surplus pada tiga tahun, yaitu 2021, 2022, dan 2023. Di luar tahun-tahun itu, Indonesia selalu mengalami defisit, yang berarti lebih banyak mengimpor barang dari China daripada mengekspor ke sana.
Situasi ini mencerminkan ketergantungan Indonesia pada barang-barang impor dari China. Ketergantungan tersebut bisa menjadi indikasi ketidakseimbangan dalam hubungan perdagangan antara kedua negara. Meskipun Indonesia berupaya untuk meningkatkan ekspor, defisit perdagangan yang terus berlanjut menunjukkan tantangan besar. Hal ini menandakan perlunya upaya lebih keras dalam memperbaiki struktur ekspor Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada impor dari China.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin