ASAP putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina pukul 01.08 Wita, Kamis (8/5), menandai terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik. Tanda simbolik itu muncul usai 133 kardinal menyelesaikan proses pemungutan suara dalam Conclave untuk memilih Paus pengganti Paus Fransiskus. Sehari sebelumnya, pada Rabu (7/5) malam waktu setempat, pemungutan suara belum menghasilkan kesepakatan. Ribuan umat Katolik yang memadati Lapangan Santo Petrus pun bersorak begitu melihat kepulan asap putih. Seusai pemilihan, Vatikan mengumumkan identitas Paus baru yang akan memimpin umat Katolik sedunia.
Paus terpilih adalah Robert Francis Prevost, seorang kardinal asal Amerika Serikat. Ia mencatat sejarah sebagai Paus pertama dari Negeri Paman Sam. Lahir di Chicago, Illinois, pada 1955, beliau aktif dalam pelayanan pastoral di Peru sebelum dipanggil ke pusat kekuasaan Vatikan. Ia memilih nama Paus Leo XIV sebagai nama pontifikalnya. Paus Leo XIV sebelumnya menjabat sebagai prefek Dikasteri untuk Uskup di Vatikan dan dikenal luas sebagai teolog serta administrator Gereja yang berpengalaman.
Dikutip dari CNN, pidato perdana dari balkon Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV menegaskan komitmennya untuk memimpin Gereja dengan semangat kerendahan hati dan harapan. Ia menyerukan pentingnya memperkuat dialog lintas iman sebagai jalan menuju perdamaian global. Selain itu, paus mengajak seluruh umat Katolik untuk tidak menutup diri terhadap perbedaan. Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan Gereja yang tidak hanya berkhotbah, tetapi juga hadir nyata di tengah penderitaan. Gereja harus menjadi pelindung bagi mereka yang terpinggirkan dan mendampingi umat dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks.(https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250509044009-134-1227511/pidato-lengkap-paus-leo-xiv-usai-terpilih-jadi-penerus-paus-fransiskus, CNN, 2025)
Paus juga menekankan bahwa Gereja harus meninggalkan citra sebagai menara gading yang eksklusif. Sebaliknya, ia ingin Gereja menjadi rumah yang terbuka bagi semua, termasuk mereka yang tengah meragukan iman, mencari makna, atau mengalami keterasingan. Ia mengajak umat untuk membangun komunitas yang hangat, inklusif, dan peduli terhadap sesama. Komunitas itu harus menjadi tempat di mana harapan bisa tumbuh, bahkan di tengah ketidakpastian zaman.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin