Gerindra Puncaki Survei Elektabilitas Partai Politik, 24 Persen Pemilih Belum Menentukan Pilihan

kaltimes.com
7 Sep 2026
Share
Foto: cimahikota.bawaslu.go.id

KALTIMES — Peta kekuatan dan arah politik Indonesia menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 terus menunjukkan dinamika yang dinamis. Persaingan antar-partai politik untuk memperebutkan simpati publik tercermin dalam laporan riset terbaru dari Tempo Data Science bertajuk Survei Publik terhadap Kinerja Pemerintah dan Dinamika Politik Nasional. Pengukuran yang dipublikasikan pada akhir Agustus 2026 ini memotret tingkat elektabilitas partai politik apabila pemilu legislatif diselenggarakan saat ini.

Survei ini dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.260 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi di Indonesia. Metode wawancara dilaksanakan secara tatap muka, dengan margin of error tercatat sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, Partai Gerindra masih mengukuhkan posisinya di puncak klasemen dengan elektabilitas mencapai 20 persen. Kendati memimpin, raihan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan porsi perolehan suara Gerindra pada Pemilu 2024 lalu yang berada di angka 23 persen.

Analisis terhadap karakteristik pemilih menunjukkan bahwa faktor figuritas memegang peranan kunci, di mana 27 persen responden yang memilih Gerindra menyatakan sosok atau kader partai sebagai alasan utama keputusan mereka. 

Posisi kedua ditempati oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengantongi elektabilitas sebesar 16 persen. Angka ini juga menunjukkan tren koreksi tipis dari capaian hasil Pemilu 2024 yang sebelumnya mencatatkan perolehan 18 persen.

Berbeda dengan Gerindra, loyalitas dan kebiasaan menjadi pendorong utama basis pemilih PDIP, dengan 36 persen responden mengaku memilih partai bertagline banteng moncong putih tersebut karena faktor sudah terbiasa. 

Sementara itu, Partai Golkar berhasil menyodok ke urutan ketiga dengan mengamankan elektabilitas sebesar 10 persen. Raihan ini menandai peningkatan kinerja elektoral dari perolehan 2024 yang saat itu sebesar 8 persen. Pola dukungan pemilih Golkar memiliki kemiripan dengan PDIP, di mana mayoritas pendukungnya—yakni sebanyak 29 persen—mengutarakan alasan kebiasaan sebagai acuan utama dalam memilih. 

Di posisi selanjutnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menempati peringkat keempat dengan elektabilitas stagnan di angka 8 persen, setara dengan perolehannya pada Pemilu 2024. Bagi pemilih PKB, sentimen identitas menjadi preferensi dominan, dengan 22 persen responden menempatkan faktor agama atau identitas sosial sebagai dasar pertimbangan. 

Melengkapi jajaran lima besar, Partai NasDem mencatatkan tingkat elektabilitas yang konsisten di angka 5 persen. Daya tarik utama NasDem terletak pada citra kelembagaan, di mana 35 persen pendukungnya menilai partai ini berhasil membawa narasi perubahan. 

Pada papan menengah dan bawah, Partai Demokrat menempel ketat di urutan keenam dengan elektabilitas 5 persen, disusul oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebesar 4 persen dan Partai Amanat Nasional (PAN) sebesar 3 persen. Sementara itu, posisi terbawah diisi oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang masing-masing hanya meraih elektabilitas 2 persen.

Meskipun jajaran partai papan atas masih mendominasi perolehan suara, Tempo Data Science mencatat keberadaan kelompok undecided voters yang tergolong signifikan. Sebanyak 24 persen responden tercatat belum menentukan pilihan atau memilih tidak memberikan jawaban.

Tingginya persentase pemilih yang belum menentukan sikap ini mengindikasikan bahwa peta dukungan politik nasional masih sangat cair dan berpeluang bergeser seiring berkembangnya isu nasional serta figur yang muncul mendekati Pemilu 2029. (*)