Minat Kendaraan Listrik Meningkat, Preferensi Konsumen Indonesia terhadap Mobil Konvensional Turun Tajam

kaltimes.com
31 Okt 2026
Share

KALTIMES — Laporan terbaru dari Deloitte yang bertajuk “2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspective” mengungkapkan adanya lonjakan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik dan hybrid.

Tren positif ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga di Asia Tenggara dalam hal minat adopsi kendaraan ramah lingkungan, tepat di bawah Thailand dan Singapura. Survei berskala regional ini melibatkan 6.013 konsumen dari enam negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Khusus untuk Indonesia, survei menjaring kurang lebih 1.000 responden, di mana 42 persen di antaranya menyatakan ketertarikan yang kuat untuk beralih ke kendaraan hybrid dan listrik. Dari kelompok yang berminat ini, sebanyak 53 persen responden memaparkan bahwa faktor utama yang mendorong ketertarikan mereka adalah biaya bahan bakar yang lebih rendah.

Selain masalah efisiensi biaya, kecepatan pengisian daya menjadi pertimbangan penting bagi 50 persen responden, disusul oleh pengalaman berkendara yang diadopsi oleh 48 persen konsumen, serta ketersediaan stasiun pengisian daya yang disoroti oleh 47 persen responden.

Seiring dengan meningkatnya minat pada teknologi hijau, laporan Deloitte juga mencatat adanya penurunan preferensi konsumen Indonesia terhadap kendaraan konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE).

Bahkan, penurunan preferensi terhadap mobil bermesin pembakaran internal di Indonesia tercatat sebagai yang paling tajam di kawasan Asia Tenggara dari tahun ke tahun. Pada tahun 2026 ini, preferensi masyarakat terhadap kendaraan ICE terjun bebas hingga 7 poin persentase, yaitu dari 62 persen menjadi 55 persen.

Menanggapi fenomena ini, Automotive Sector Leader Deloitte Asia Tenggara, Lee Seong-jin, menilai bahwa penurunan preferensi terhadap kendaraan konvensional menandakan sudut pandang konsumen di Indonesia sudah bergerak ke arah yang tepat.

Pergeseran ini dinilai kian diperkuat oleh langkah strategis Pemerintah Indonesia yang berencana memberikan insentif khusus bagi para pengguna kendaraan listrik. Lee menegaskan bahwa rencana pemerintah tersebut merupakan langkah yang sangat baik dan tepat waktu untuk merangsang pasar.

Kebijakan insentif tersebut dipandang sangat krusial dan sejalan dengan kondisi pasar saat ini. Pasalnya, bagi 55 persen konsumen Indonesia yang saat ini masih mendominasi dan mengaku belum tertarik pada kendaraan hybrid atau listrik, faktor biaya tetap menjadi batu sandungan utama.

Baik responden asal Indonesia maupun responden global dalam survei ini sepakat bahwa faktor biaya merupakan pertimbangan paling penting saat memilih lokasi pengisian daya umum. Terlebih lagi, masih ada 34 persen responden yang sama sekali tidak memiliki akses pengisian daya di rumah, sehingga mereka otomatis harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengisi daya di stasiun umum.

Di samping masalah biaya, konsumen Indonesia ternyata masih dibayangi kekhawatiran terkait kesenjangan antara ekspektasi mereka dengan kesiapan infrastruktur di lapangan. Lee Seong-jin menambahkan bahwa para pengendara hingga kini masih mempertanyakan hal-hal praktis mengenai lokasi pengisian daya serta ketersediaan infrastruktur pendukung lainnya.

Menurutnya, tantangan dan pertanyaan mendasar dari konsumen ini membutuhkan solusi menyeluruh di tingkat ekosistem yang jauh melampaui sekadar urusan penyesuaian harga. (*)