MEJA kayu di ruang kelas menjadi saksi bisu perjuangan jutaan anak bangsa dalam mengejar ilmu. Cahaya harapan terus berpijar di mata mereka meskipun tantangan akses pendidikan masih membentang luas.
Kawasan Asia Tenggara terus menunjukkan perkembangan pesat dalam berbagai aspek pembangunan sumber daya manusia. Salah satu indikator utama guna melihat kapasitas kognitif populasi adalah skor Intelligence Quotient atau IQ.
International IQ Test melakukan rekap data terhadap 1,2 juta orang di 137 negara pada tahun 2025. Langkah ini bertujuan membandingkan kapasitas intelektual guna memotret kualitas pendidikan secara global.
Rata-rata skor IQ di mayoritas negara penelitian hanya berubah kurang dari 2 poin secara tahunan. Oleh karena itu, stabilitas sistem pendidikan sangat menentukan posisi sebuah bangsa dalam peta persaingan kognitif dunia.
Singapura dan Vietnam Pimpin Kualitas Kognitif ASEAN

Singapura menempati posisi tertinggi di Asia Tenggara dengan raihan skor sebesar 103,56 pada tahun 2025. Angka tersebut menempatkan Singapura sebagai yang terbaik di ASEAN sekaligus tertinggi ketujuh di dunia.
Keberhasilan ini tidak lepas dari sistem pendidikan kompetitif serta investasi besar dalam riset. Meski begitu, rata-rata skor mereka sedikit berkurang dari tahun sebelumnya yang mencapai 105,14 poin.
Vietnam menyusul di posisi kedua dengan mencatatkan skor sebesar 102,26 dari 14.915 orang peserta tes. Capaian ini menunjukkan bagaimana negara berkembang dapat mengejar ketertinggalan melalui fokus kuat pada pendidikan dasar.
Skor IQ Vietnam bahkan tercatat bertambah sebanyak 2,14 poin dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya. Di bawah mereka, terdapat kelompok negara dengan skor yang mendekati rata-rata global saat ini.
Thailand meraih skor 99,94 dari 16.622 sampel, sementara Malaysia mencatat 98,51 dari 19.346 sampel. Myanmar menyusul dengan perolehan skor 98,28 dari total 340 orang yang mengikuti sampel tes tersebut.
Negara-negara ini mencerminkan kondisi yang relatif stabil dalam hal ketersediaan akses pendidikan. Namun demikian, mereka masih menghadapi tantangan besar dalam hal pemerataan kualitas layanan pendidikan.
Brunei Darussalam dan Filipina juga berada dalam kelompok yang sama dengan skor masing-masing 96,54 dan 95,68. Hal ini menunjukkan bahwa akses layanan dasar memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan kognitif masyarakat.
Tantangan Struktural dan Posisi IQ Indonesia
Bagian bawah daftar diisi oleh Kamboja dengan skor 93,12 dan Laos yang mencatatkan angka 92,97. Indonesia mencatatkan skor rata-rata sebesar 89,96, sementara Timor-Leste berada pada posisi terakhir dengan 86,7 poin.
Posisi ini menggambarkan adanya tantangan struktural terkait kesenjangan akses pendidikan serta kualitas infrastruktur. Selain itu, kondisi gizi dan kesehatan anak masih menjadi faktor penghambat perkembangan kognitif yang serius.
Dalam konteks nasional, luas wilayah dan perbedaan kemajuan antar daerah memengaruhi kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Skor IQ Indonesia tercatat turun sebesar 3,22 poin jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Meski demikian, perlu diingat bahwa skor ini tidak mencerminkan IQ seluruh penduduk di masing-masing negara. Hanya individu yang mengambil tes secara sukarela yang nilainya masuk ke dalam rekapitulasi data tersebut. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin