SUARA pembangunan di sepanjang bantaran sungai kini bersahutan dengan derap langkah inovator muda. Cahaya kemajuan tidak lagi terpusat di satu pulau, melainkan mulai menjangkau berbagai wilayah Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota di luar Pulau Jawa menunjukkan kemajuan ekonomi yang signifikan. Transformasi digital dan pembangunan infrastruktur menjadi pendorong utama pertumbuhan di berbagai daerah.
Untuk memotret perkembangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) tahun 2025. Indeks ini mengukur produktivitas berdasarkan empat komponen utama, yaitu sumber daya manusia, pasar, inovasi, dan lingkungan pendukung.
Penilaian dilakukan dengan skala maksimal lima poin guna menghasilkan gambaran yang komprehensif. Hasil ini menjadi acuan penting dalam melihat peta persaingan daerah di Indonesia.
Dominasi Banjarmasin dan Persaingan Kota Besar Luar Jawa

Berdasarkan hasil tersebut, Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan terpilih sebagai kota paling maju di luar Jawa pada 2025 dengan skor 4,35 poin. Secara nasional, kota ini menempati peringkat keempat sebagai daerah paling kompetitif dan produktif.
Capaian ini didukung oleh skor sempurna pada transparansi anggaran serta sistem pemerintahan berbasis layanan elektronik. Selain itu, kualitas infrastruktur jalan dan tingginya rata-rata lama sekolah menjadi fondasi utama.
Di bawahnya, Kota Medan dan Kota Samarinda mencatat skor yang sama, yakni 4,32 poin. Sementara itu, Kota Mataram menyusul dengan skor 4,26 poin.
Persaingan ini menunjukkan bahwa kualitas birokrasi dan ekosistem inovasi di luar Jawa semakin berkembang. Distribusi kemajuan yang lebih merata juga membuka peluang investasi dan menarik talenta ke berbagai daerah.
Keseimbangan Pilar Kemajuan di Kalimantan Timur
Di Kalimantan Timur, Samarinda mampu unggul dari Balikpapan karena keseimbangan pada empat komponen penilaian. Pendekatan ini menilai pembangunan secara menyeluruh, bukan hanya keunggulan sektor tertentu.
Balikpapan memang kuat pada sektor pasar dan infrastruktur sebagai kota industri minyak dan gas. Namun, ketimpangan pada komponen lain memengaruhi nilai totalnya, tercermin dari posisinya yang belum masuk dalam jajaran kota dengan peringkat 10 teratas.
Sebaliknya, Samarinda menunjukkan stabilitas pada sektor pendidikan, birokrasi, dan tata kelola lingkungan. Struktur pasar yang berbasis konsumsi domestik juga membuat ekonominya lebih merata.
Ketimpangan antar-komponen dapat menahan skor total meskipun sebuah kota terlihat maju secara fisik. Hal ini menegaskan bahwa keseimbangan pembangunan menjadi faktor kunci dalam daya saing.
Samarinda yang lebih seimbang akhirnya mencatat nilai sedikit lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.
Penguatan sumber daya manusia dan birokrasi yang bersih menjadi kunci utama. Untuk itu kedepannya setiap kota harus menjaga konsistensi pertumbuhan di semua lini agar daya saing tetap terjaga.
Kemajuan yang merata menjadi langkah penting menuju keadilan pembangunan di seluruh Indonesia. Inovasi daerah perlu terus didorong agar pertumbuhan tidak lagi terpusat.
Dengan dukungan berkelanjutan, setiap daerah berpeluang berkembang dan berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan nasional. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin