BBM Myanmar Naik 100 Persen: Indonesia Catat Kenaikan Terendah Hanya 2 Persen di ASEAN

kaltimes.com
9 Apr 2026
Share
Di tengah lonjakan harga BBM dunia hingga 60 persen akibat konflik Asia Tengah, Indonesia mencatatkan kenaikan harga bensin terendah di ASEAN sebesar 2,8 persen./Ilustrasi

ANTREAN kendaraan yang mengular panjang di stasiun pengisian bahan bakar menjadi pemandangan yang semakin sering terjadi. 

Kenaikan harga BBM di kawasan ASEAN tak terelakkan setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mengganggu distribusi energi di Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak hingga 60 persen dan langsung menekan harga bahan bakar di berbagai negara.

Kenaikan Harga Bensin di Negara Tetangga

Dampak tersebut paling terlihat pada lonjakan harga bensin di kawasan. Berdasarkan data Global Petrol Price per 30 Maret 2026, Myanmar mencatat kenaikan tertinggi hingga 100 persen. Nilai ini diikuti Filipina sebesar 71,60 persen dan Malaysia sebesar 52,40 persen. Kenaikan juga terjadi di Kamboja dan Laos masing-masing 39,30 persen dan 36,20 persen.

Sementara itu, Thailand dan Vietnam mencatat kenaikan 26,10 persen dan 25,50 persen, sedangkan Singapura naik 19,60 persen. 

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia menjadi negara dengan kenaikan paling rendah yakni 2,80 persen. Perbedaan ini menunjukkan dampak gejolak energi global tidak merata dan sangat dipengaruhi kebijakan domestik. Indonesia sendiri menahan harga BBM untuk menjaga daya beli.

Tren serupa juga terjadi pada bahan bakar solar yang bahkan meningkat lebih tajam. Myanmar kembali mencatat lonjakan tertinggi 119,90 persen. Tidak hanya itu, kenaikan pada Laos 117,50 persen dan Filipina 111 persen yang berdampak besar pada sektor logistik. 

Negara lain seperti Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, dan Thailand juga mengalami kenaikan signifikan, sementara Indonesia kembali mencatat kenaikan terendah sebesar 7,50 persen. Kondisi ini memperkuat pola bahwa tekanan global diterjemahkan berbeda di tiap negara.

Strategi Pemerintah Indonesia Menjaga Stabilitas

Melihat tekanan tersebut, pemerintah Indonesia memilih strategi menahan harga untuk meredam dampak lanjutan ke masyarakat. Per 6 April 2026, harga Pertalite tetap di Rp 10,00 ribu per liter, sementara Pertamax dan Pertamax Turbo masing-masing Rp 12,50 ribu dan Rp 13,50 ribu per liter.

Mengutip Goodstat (8/4/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan ini bertujuan menjaga daya beli di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah mencapai 109 dolar per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar per barel.

Sebagai lanjutan dari kebijakan tersebut, pemerintah juga menerapkan penghematan energi sejak 1 April 2026, termasuk kebijakan kerja dari rumah bagi ASN dan pembatasan perjalanan dinas. Langkah ini menjadi respons untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin