HARAPAN mendapatkan pekerjaan pertama seringkali langsung menyala di benak para lulusan baru. Mereka berharap dapat memasuki dunia kerja dengan posisi tingkat pemula (entry-level). Namun, realitas pasar kerja kini menyajikan tantangan yang kian berat.
Bagi lulusan baru, pekerjaan tingkat pemula biasanya menjadi pijakan pertama untuk meniti karier. Sayangnya, data terbaru menunjukkan bahwa peluang di pintu masuk ini semakin menyempit. Perekrutan di berbagai sektor utama mengalami penurunan drastis.
Perekrutan Pemula di 3 Sektor Utama Anjlok Lebih dari 70 Persen
Menurut analisis Ravio 2024–2025, delapan bidang utama mengalami penurunan perekrutan pekerja tingkat pemula yang sangat signifikan. Analisis ini menggunakan data dari lebih dari 1.400 perusahaan di seluruh dunia pada Kuartal II 2025. Penurunan ini bahkan mencapai lebih dari 70 persen di beberapa sektor yang sebelumnya populer di kalangan fresh graduate.
Bidang pemasaran menjadi yang paling terdampak. Perekrutan tingkat pemula di sektor ini turun hingga 75,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Banyak peran awal seperti pembuatan konten, riset konsumen, hingga analisis performa kampanye kini dapat ditangani oleh kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, kebutuhan tenaga kerja baru di level ini semakin menurun.
Tidak hanya pemasaran, bidang sumber daya manusia (SDM) juga mengalami penurunan perekrutan besar, yakni 72,3 persen. Padahal, bidang ini sebelumnya kerap menjadi salah satu jalur karier populer bagi lulusan psikologi maupun manajemen.
Bidang teknik (engineering) yang selama ini dianggap aman dan menjanjikan, ternyata juga tidak kebal dari tren ini. Perekrutan tingkat pemula di sektor teknik turun 72,2 persen. Angka ini menandakan bahwa bahkan posisi teknis pun mulai terpengaruh oleh otomatisasi dan efisiensi digital.

Implikasi Penurunan Rekrutmen Bagi Fresh Graduate
Penurunan tajam ini menandakan bahwa lulusan baru kini menghadapi tantangan lebih besar untuk masuk ke dunia kerja. Banyak perusahaan yang mulai menggantikan peran awal dengan teknologi otomatisasi. Perusahaan juga memperketat kebutuhan rekrutmen agar lebih efisien. Hal ini kontras dengan kondisi pascapandemi di tahun 2022. Saat itu, banyak perusahaan justru gencar merekrut pekerja pemula untuk mengisi kekosongan.
Meski begitu, peluang tidak sepenuhnya hilang. Lulusan baru perlu lebih adaptif. Mereka harus mengasah keterampilan yang sulit digantikan mesin, seperti kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Penguasaan teknologi canggih justru bisa menjadi nilai tambah di pasar kerja baru. Oleh karena itu, fokus harus bergeser dari pekerjaan rutin ke peran yang membutuhkan inovasi dan pemecahan masalah kompleks.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin