JAKET toga terlempar ke udara, menandai akhir dari perjuangan akademik dan awal dari kompetisi sesungguhnya. Ribuan lulusan sarjana memasuki pasar kerja setiap tahun. Mereka membawa harapan baru di tengah tantangan mencari pekerjaan yang kian ketat.
Jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia memang terus bertambah. Namun demikian, ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai bidang masih menjadi isu utama. Hal ini sejalan dengan potret pendidikan tinggi yang Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) paparkan. Paparan ini disampaikan dalam Pertemuan Majelis Dewan Guru Besar PTNBH di Universitas Andalas, Jumat (26/9/2025).
Rumpun Sosial-Manajemen Kuasai Lulusan Perguruan Tinggi
Data Kemdiktisaintek menunjukkan jumlah lulusan perguruan tinggi per September 2025 masih didominasi rumpun Ilmu Sosial dan Manajemen. Total lulusan mencapai 1.087.637 orang atau 61,59 persen dari total keseluruhan.
Lulusan dari rumpun Ilmu Sosial dan Manajemen mempelajari perilaku manusia, organisasi, ekonomi, dan kebijakan publik. Prospek kerjanya sangat luas, meliputi akuntan, marketer, analis kebijakan, banker, hingga project manager.
Posisi kedua diduduki lulusan Ilmu Hayati dan Kedokteran. Mereka tercatat sebanyak 323.163 orang atau 18,30 persen. Rumpun ini berfokus pada kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Prospek kerjanya mencakup dokter, perawat, apoteker, peneliti bioteknologi, hingga ahli gizi di rumah sakit atau industri.
Berikutnya, rumpun Teknik dan Teknologi mencetak 219.429 orang atau 12,43 persen. Lulusan ini menguasai bidang rekayasa, perangkat lunak, infrastruktur, dan energi terbarukan. Mereka dapat bekerja sebagai programmer, engineer di sektor manufaktur, pertambangan, atau spesialis cyber security.
Di samping itu, lulusan Seni dan Humaniora sebanyak 94.730 orang atau 5,36 persen. Rumpun ini menekankan pada bahasa, budaya, sejarah, dan seni kreatif. Prospek kerjanya meliputi jurnalis, copywriter, content creator, kurator seni, hingga diplomat.
Terakhir, Ilmu Pengetahuan Alam hanya mencetak 40.883 orang atau 2,32 persen. Rumpun ini berfokus pada ilmu murni seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Lulusannya dapat berprofesi sebagai data scientist, peneliti R&D (riset dan pengembangan), pengajar, atau ahli geologi.

Kesenjangan Lulusan dengan Kebutuhan Inovasi
Saat ini, Indonesia memiliki 4.614 perguruan tinggi dengan hampir 10 juta mahasiswa. Perguruan tinggi juga memberikan kontribusi ekonomi yang besar. Perputaran uang di sektor ini diperkirakan mencapai Rp 390 triliun per tahun.
Dari sisi riset, kontribusi perguruan tinggi Indonesia kian meningkat. Indonesia berhasil mempublikasikan 328.006 jurnal internasional (Scopus) dengan 1,45 juta sitasi. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi berhasil masuk peringkat internasional. UNAIR, UI, dan UGM berada di Top 100 GreenMetric.
Faktanya, dominasi lulusan Ilmu Sosial dan Manajemen mencapai lebih dari 61 persen. Hal ini menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, sektor bisnis, administrasi, dan sosial memang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun demikian, sektor ini sering mengalami kelebihan pasokan lulusan.
Di sisi lain, jumlah lulusan rumpun Teknik, Teknologi, dan Ilmu Pengetahuan Alam masih minim, kurang dari 15 persen. Padahal, kebutuhan terhadap lulusan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini krusial untuk memperkuat inovasi. Tenaga ahli STEM sangat penting untuk mendorong daya saing Indonesia di kancah global.
Oleh karena itu, tantangan bagi perguruan tinggi tidak hanya sebatas meluluskan mahasiswa dalam jumlah besar. Mereka juga harus mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang mampu memperkuat inovasi dan daya saing Indonesia di kancah global. Keseimbangan antara ilmu sosial dan ilmu terapan harus kita capai. Hal ini penting demi masa depan pembangunan yang berkelanjutan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin