5 Alasan Publik Belum Beralih ke Gaya Hidup Ramah Lingkungan

kaltimes.com
10 Okt 2025
Share

GEMERLAP kampanye hijau tampak di mana-mana, dari iklan produk hingga gerakan sosial. Namun, kenyataannya masih banyak orang belum beralih ke gaya hidup ramah lingkungan.

Seiring maraknya isu perubahan iklim, gaya hidup ramah lingkungan atau sustainable lifestyle makin banyak dibicarakan. Gaya hidup ini menekankan konsumsi bertanggung jawab, energi terbarukan, dan pola makan berbasis nabati.

TGM Research meneliti 34 negara pada 2024 untuk mengetahui persepsi publik soal gaya hidup ramah lingkungan. Survei melibatkan 18.985 responden dengan hasil yang cukup mengejutkan.

Harga menjadi hambatan terbesar. Sebanyak 42,99 persen responden menilai produk ramah lingkungan lebih mahal dibanding produk biasa.

Fasilitas daur ulang juga jadi masalah. Sebanyak 25,78 persen responden menyebut keterbatasan fasilitas membuat mereka sulit mengelola sampah dengan benar.

Selain itu, 23,93 persen responden mengaku kurang informasi soal cara menerapkan gaya hidup ini. Sedangkan 22,28 persen merasa pilihan produk ramah lingkungan masih terbatas.

Faktor lain adalah soal kenyamanan. Sebanyak 21,85 persen responden menilai gaya hidup ramah lingkungan menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga.

Data ini menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup. Tanpa dukungan harga terjangkau, fasilitas yang memadai, dan pilihan produk yang luas, publik akan sulit beralih ke gaya hidup berkelanjutan.

Perubahan gaya hidup menuju ramah lingkungan membutuhkan kolaborasi semua pihak, bukan hanya individu. Dengan begitu, transisi menuju dunia yang lebih hijau bisa terasa lebih nyata. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin