HENING doa kini tak hanya terdengar di rumah ibadah, tapi juga di layar ponsel. Gen Z membawa keyakinannya ke ruang digital, tempat doa, diskusi, dan interaksi keagamaan berjalan seiring dengan guliran layar.
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Bahkan dalam urusan beragama, platform digital ikut memengaruhi cara mereka memahami iman dan membangun relasi lintas keyakinan.
IDN Research Institute merilis Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025. Laporan ini meneliti perilaku Gen Z, termasuk bagaimana media sosial berperan dalam kehidupan beragama mereka. Riset dilakukan pada 750 responden Gen Z di 12 kabupaten/kota selama Maret hingga Agustus 2024, dengan metode kuantitatif dan kualitatif.
Jejak Digital dalam Kehidupan Beragama
Hasil riset menunjukkan pengaruh media sosial terhadap agama dan spiritualitas bersifat berlapis. Sebanyak 54 persen responden merasa lebih toleran terhadap perbedaan agama berkat interaksi di platform digital.
Sebanyak 46 persen responden memanfaatkan media sosial untuk memperdalam pemahaman tentang agama mereka sendiri. Sementara itu, 36 persen berusaha memahami agama lain melalui konten digital.
Selain itu, 30 persen responden mengikuti pemimpin atau organisasi agama. Fakta ini menunjukkan keterlibatan keagamaan kini meluas, baik secara pribadi maupun komunal. Sebanyak 26 persen responden terinspirasi mempelajari agama lain, dan 25 persen terlibat langsung dalam dialog lintas iman.
Angka-angka ini menandakan media sosial bukan hanya alat komunikasi, melainkan ruang baru bagi pertumbuhan spiritual. Namun, fenomena ini juga menunjukkan bahwa identitas keagamaan Gen Z semakin cair, bergantung pada arus informasi digital yang mereka konsumsi.

Ruang Toleransi atau Arena Polarisasi?
Data riset menunjukkan media sosial kini berperan sebagai ruang toleransi baru bagi Gen Z. Interaksi lintas iman membuat mereka lebih terbuka pada perbedaan, sekaligus lebih mudah mengakses pengetahuan keagamaan dari berbagai sumber. Fenomena ini menciptakan peluang lahirnya generasi dengan literasi agama yang lebih luas.
Namun, risiko tidak bisa diabaikan. Informasi menyesatkan, ujaran kebencian, dan konten intoleran justru lebih cepat menyebar di ruang digital. Di sisi lain, algoritma media sosial kerap memperkuat bias dengan menyajikan konten sejenis berulang kali. Akibatnya, ruang yang seharusnya memperluas wawasan bisa berubah menjadi arena polarisasi.
Kelebihannya, media sosial memberi inspirasi spiritual lintas batas dan menghadirkan figur keagamaan dalam format yang dekat dengan keseharian Gen Z. Kekurangannya, ruang digital rentan mengubah agama menjadi komoditas konten dari kutipan singkat hingga potongan ceramah viral. Akibatnya Gen Z lebih mementingkan engagement ketimbang substansi.
Kehidupan beragama Gen Z di dunia digital dengan demikian menghadirkan paradoks. Media sosial bisa menjadi sarana memperkuat iman dan solidaritas antarumat, tetapi juga bisa mereduksi agama hanya sebatas tontonan.
Masa depan keberagamaan generasi muda ditentukan oleh sejauh mana mereka bijak menyaring dan menggunakan ruang digital. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin