The Conjuring: Last Rites Jadi Film Terlaris Kedua di Indonesia

kaltimes.com
16 Sep 2025
Share

SUASANA bioskop awal September dipenuhi teriakan dan tepuk tangan penonton. Antusiasme itu lahir dari The Conjuring: Last Rites, film horor terbaru yang menguasai layar lebar Indonesia. Data Cinepoint mencatat, film ini menempati posisi kedua dengan 2,4 juta penonton per 1–10 September 2025.

Film garapan James Wan itu mengisahkan investigasi terakhir pasangan demonolog Ed dan Lorraine Warren pada 1986 terhadap kasus keluarga Smurl di Pennsylvania. Keluarga ini mengalami teror supernatural selama bertahun-tahun, termasuk serangan fisik dan gangguan dari empat entitas berbeda. Cerita juga menyoroti dampak emosional bagi keluarga Smurl dan pasangan Warren, sekaligus menjadi penutup seri The Conjuring. Capaian ini menegaskan daya tarik kuat waralaba horor internasional di pasar Indonesia.

Demon Slayer Pimpin Box Office

Meski tipis, selisih 10 ribu penonton membuat Demon Slayer: Infinity Castle merebut posisi pertama dengan 2,5 juta penonton. Film ini menjadi klimaks saga Kimetsu no Yaiba, menghadirkan pertarungan habis-habisan para pembasmi iblis melawan Muzan Kibutsuji di kastil tak terbatas.

Di bawah dua besar, jarak jumlah penonton cukup jauh. Film lokal La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka… menempati urutan ketiga dengan 877 ribu penonton. Drama religi ini mengangkat kisah seorang perempuan yang bergulat dengan dilema cinta dan penebusan dosa.

Persaingan Ketat di Tengah Box Office

The Shadows Edge menempati posisi keempat dengan 663 ribu penonton. Thriller psikologis ini mengisahkan seorang pria yang dihantui masa lalunya hingga terjebak dalam permainan manipulasi berbahaya.

Di peringkat kelima, Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah meraih 416 ribu penonton. Film melodrama keluarga ini menggali konflik batin seorang anak yang mempertanyakan arti ikatan darah dan pilihan hidup orang tuanya.

Film horor lokal juga ikut bersaing. Pencarian Terakhir menutup pekan dengan 411 ribu penonton, sedangkan Menjelang Magrib 2: Wanita yang Dirantai hanya mampu menarik 134 ribu penonton. Angka ini menunjukkan horor Indonesia masih tertinggal dibanding film Hollywood.

Di luar tujuh besar, Materialists meraup 74 ribu penonton dan menempati posisi kedelapan. Dracula: A Love Tale membuntuti di peringkat kesembilan dengan 53 ribu penonton.

Yang mengejutkan, Jujutsu Kaisen: Hidden Inventory/Premature Death justru terpuruk di peringkat terakhir dengan hanya 31 ribu penonton. Padahal, franchise anime besar ini biasanya punya basis penggemar kuat. Jadwal rilis yang berdekatan dengan Demon Slayer membuat banyak penonton anime lebih memilih film dengan promosi dan hype lebih besar.

Tren awal September menegaskan dua hal: horor masih menjadi primadona di bioskop Indonesia. Selain itu, film lokal harus bekerja lebih keras untuk bertahan di tengah gempuran film internasional.


Penulis: Dwi Lena Irawati