9 dari 10 Negara Kelahiran Tertinggi Dunia di Afrika

kaltimes.com
3 Okt 2025
Share

TAWA riang bayi menjanjikan masa depan. Akan tetapi, di beberapa wilayah, kelahiran masif membawa tantangan besar. Keseimbangan sumber daya dan populasi menentukan nasib sebuah bangsa.

Angka kelahiran merupakan indikator utama pertumbuhan penduduk suatu negara. Indikator ini memengaruhi ukuran tenaga kerja masa depan dan aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, setiap negara perlu memperhatikan angka kelahiran.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat sepuluh negara dengan angka kelahiran tertinggi pada tahun 2025. Negara-negara di benua Afrika mendominasi daftar ini. Para peneliti menghitung angka kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran per 1.000 orang dalam suatu populasi.

Dominasi 9 Negara Afrika

Republik Afrika Tengah menempati urutan pertama. Angka kelahirannya sebesar 45,4 per 1.000 orang. Selanjutnya, Chad mengisi posisi kedua sebagai negara dengan angka kelahiran tertinggi di dunia. Angka kelahirannya mencapai 43,2 per 1.000 orang. Somalia menyusul di posisi ketiga dengan angka kelahiran sebesar 41,8 per 1.000 orang.

Niger menjadi negara keempat. Angka kelahirannya sebesar 40,8 per 1.000 orang. Hanya selisih 0,4, angka kelahiran Republik Demokratik Kongo mencapai 40,4 per 1.000 orang. Dengan demikian, Republik Demokratik Kongo menempati peringkat kelima tertinggi di dunia.

Kemudian, Mali menduduki posisi keenam dengan angka kelahiran sebesar 39,2 per 1.000 orang. Angola menempati posisi ketujuh dengan angka kelahirannya mencapai 36,6 per 1.000 orang.

Afghanistan menjadi satu-satunya negara Asia dalam daftar sepuluh besar. Negara di perbatasan Asia Tengah dan Asia Selatan ini memiliki angka kelahiran sebesar 34,4 per 1.000 orang. Sementara itu, Tanzania, negara di Afrika Timur, menempati urutan kesepuluh. Negara ini memiliki angka kelahiran mencapai 34,3 per 1.000 orang.

Kenapa Afrika Banyak Anak?

Tingginya angka kelahiran di Afrika timbul dari faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks. Sebagai contoh, tradisi budaya di banyak komunitas Afrika menghargai keluarga besar. Mereka menganggap anak sebagai sumber kekayaan dan keamanan hari tua. Bahkan, anak-anak dibutuhkan sebagai tenaga kerja untuk membantu pertanian dan kehidupan sehari-hari.

Faktor lain meliputi tingkat pernikahan dini yang tinggi. Akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi yang terbatas juga menjadi masalah besar. Kurangnya pendidikan seks dan kontrasepsi yang terjangkau menyebabkan jarak kelahiran tidak terkontrol. Selain itu, ketidakstabilan politik dan kekerasan seksual di beberapa zona konflik juga berperan, meskipun ini bukan faktor utama.

Tingginya angka kelahiran ini membawa konsekuensi serius bagi stabilitas negara. Pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan tekanan besar pada sumber daya alam, seperti air dan pangan. Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Oleh sebab itu, masa depan negara-negara ini sangat bergantung pada kebijakan yang mengintegrasikan kesehatan reproduksi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin