Transportasi yang DekatData Ungkap Ketergantungan Ojol di Kalangan Ekonomi Bawah, Sinyal Perluasan Transportasi Publik

kaltimes.com
30 Jun 2025
Share

DI TENGAH padatnya jalanan kota, suara motor ojek online yang datang menjemput seringkali menjadi harapan bagi mereka yang terburu-buru. Layanan cepat, cukup klik di aplikasi. 

Ojek dan taksi online, atau sering disebut ojol, telah menjadi solusi mobilitas harian masyarakat perkotaan. Mudah ditemukan, mudah digunakan, dan mudah pula dijalani sebagai pekerjaan. Tak sedikit yang menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan utama atau sambilan karena waktu kerja yang fleksibel dan kebutuhan modal yang relatif rendah. 

Pekerjaan ini tak perlu ijazah tinggi atau pengalaman khusus. Hanya punya motor, ponsel pintar dan semangat, siapa saja bisa jadi pengemudi ojol. Karena itu pula, layanan ini menjamur di berbagai kota besar, menjawab kebutuhan akan transportasi cepat dan personal.

Mayoritas pengguna ojek dan taksi online berasal dari kelompok ekonomi terbawah. Hal ini terungkap dalam survei Litbang Kompas  pada Maret 2025 terhadap 200 responden di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 59,5 persen pengguna memiliki pengeluaran per kapita di bawah Rp 1,5 juta per bulan. Selanjutnya, 31 persen berada di kelas menengah bawah dengan pengeluaran Rp 1,5-2,5 juta. Sisanya, 6,5 persen dari menengah atas, dan hanya 3 persen dari kelompok ekonomi atas. Data ini memperlihatkan ironi: semakin kecil pengeluaran bulanan, justru semakin tinggi ketergantungan pada transportasi berbayar berbasis aplikasi.

Ketergantungan kalangan ekonomi menengah ke bawah terhadap ojek dan taksi online dipengaruhi oleh aksesibilitas dan fleksibilitas layanan ini. Transportasi publik yang belum merata serta kebutuhan mobilitas harian yang mendesak membuat layanan berbasis aplikasi menjadi pilihan utama. Selain itu, kemudahan pemesanan, ketersediaan armada, serta promo dan diskon yang kerap ditawarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi kelompok dengan keterbatasan opsi transportasi. Bagi sebagian orang, membayar lebih demi kecepatan dan kenyamanan dianggap sepadan dengan waktu dan tenaga yang bisa dihemat.

Meski layanan ojol menawarkan kemudahan, tingginya ketergantungan kelompok ekonomi bawah menunjukkan perlunya solusi jangka panjang. Pemerintah perlu memperluas jangkauan rute transportasi umum, memastikan keberangkatan tiap jam, dan meningkatkan kenyamanan agar masyarakat memiliki alternatif yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin