SETIAP detik terasa singkat saat jari terus menggulir layar. Di sela waktu makan, perjalanan, bahkan sebelum tidur, video pendek hadir seperti teman yang tak pernah absen. Tapi pernahkah terpikir, seberapa banyak waktu dan perhatian yang telah ditukarkan untuk layar kecil itu.
Short video merupakan klip video pendek, umumnya berdurasi 15 detik hingga beberapa menit. Contohnya, TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts yang dikemas padat, visual menarik, dan mudah dibagikan. Format ini dirancang untuk memenuhi impuls konsumsi cepat, cocok dengan ritme zaman yang serba kilat. Algoritma juga membuat pengguna terus terpikat, menjadikan short video begitu populer di era digital saat ini.
Menurut laporan Digital 2025 April Global Statshot Report oleh We Are Social, pengguna dari 10 negara berikut menonton short video paling sering di 2025. Nigeria dan Filipina (masing‑masing rata‑rata 5,10 hari per minggu). Artinya, di Nigeria dan Filipina, pengguna hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk menonton video pendek.(Digital 2025 April Global Statshot Report – We Are Social Indonesia, We Are Social, 2025)
Selanjutnya diikuti Kenya (4,98 hari per minggu), Thailand (4,94 hari per minggu), Indonesia (4,90 hari per minggu). Sementara di Indonesia, ritme konsumsi mendekati lima hari per minggu menunjukkan bahwa short video menjadi bagian dari rutinitas harian di banyak negara.

Dampak positifnya sangat signifikan. Zengrui Zhang (2022) dalam jurnal Analysis of the Positive Effect of Short Video on the Audience mencatat bahwa short video dapat meningkatkan literasi moral, kesehatan publik, dan perkembangan budaya serta edukasi.
Namun, sisi gelapnya juga nyata. Studi di Frontiers in Public Health (2022) menunjukkan kecanduan short video mengurangi motivasi belajar dan kesejahteraan pembelajaran mahasiswa. Di samping itu, eksperimen oleh Chiossi et al. (2023) mengungkap bahwa konsumsi video pendek menurunkan kemampuan mengingat niat atau tugas mendatang karena alur konstan yang memecah fokus. Fenomena ini yang disebut gangguan memori prospektif.
Short video telah menjadi teman setia miliaran orang, terutama di Nigeria, Filipina, Kenya, Thailand, dan Indonesia. Negara-negara ini rata‑rata hampir lima hari per minggu. Mereka membawa efek positif lewat edukasi dan koneksi sosial.
Di balik keseruan itu, juga menyimpan risiko kecanduan, gangguan belajar dan erosi memori. Di tengah gelombang layar pendek ini, tantangannya adalah memanfaatkannya secara bijak. Gunakan interaksi aktif untuk memperkaya hidup, bukan membiarkannya menggerus konsentrasi dan kesejahteraan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin