Turis Mancanegara Kembali Serbu Indonesia, Swiss Paling Boros

kaltimes.com
8 Agu 2025
Share

SETELAH SUNYI di masa pandemi, hotel, pantai, dan pasar kembali hidup. Pelancong dari berbagai negara memenuhi destinasi wisata di Tanah Air.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pariwisata dunia. Namun, pandemi sempat memukul sektor ini. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan mancanegara pada 2021 turun lebih dari 70 persen. Saat itu, hanya sekitar 1,5 juta turis asing yang datang. Tahun 2022 mulai membaik, dengan kenaikan 278 persen. Pada 2024, kunjungan pulih hingga 13,9 juta orang. Meski jumlahnya naik, rata-rata pengeluaran per kunjungan turun dari US$1.625,36 pada 2023 menjadi US$1.391,85 pada 2024.

Turis asal Swiss tercatat paling royal. Sepanjang 2024, rata-rata belanja mereka mencapai US$ 2.194,35 per kunjungan. Posisi kedua ditempati turis Amerika Serikat dengan US$ 2.183,85, disusul Austria sebesar US$ 2.175,82.

Belgia dan Rusia masuk lima besar dengan masing-masing US$ 2.148,78 dan US$ 2.113,7. Spanyol berada di urutan keenam dengan US$ 2.109,05, diikuti negara-negara Amerika Selatan US$ 2.090,81. Jerman mencatat US$2.038,74, Portugal US$2.000,07, dan Norwegia US$1.984,7.

Daya tarik Indonesia membuat turis betah. BPS mencatat, wisata seni dan kuliner seperti menonton pertunjukan tari tradisional dan mencicipi sate lilit atau rendang menjadi aktivitas favorit, dipilih 57,94 persen turis asing. Wisata perkotaan seperti berbelanja di pusat kota Jakarta atau menikmati kafe di Bandung disukai 48,52 persen. Disusul wisata bahari seperti snorkeling di Raja Ampat atau diving di Bunaken sebesar 43,22 persen.

Wisata petualangan seperti mendaki Gunung Rinjani atau arung jeram di Sungai Alas menempati angka 41,45 persen. Sementara itu, wisata budaya dan religi seperti mengunjungi Candi Borobudur atau Masjid Istiqlal sebesar 36,88 persen.

Wisata lingkungan dan pedesaan seperti menginap di desa wisata mencatat 28,59 persen, dan wisata kesehatan seperti spa herbal diminati 13,35 persen. Adapun wisata kawasan terpadu seperti resort terpadu di Nusa Dua dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) masing-masing hanya 10,9 persen dan 9,9 persen.

Pulihnya pariwisata membawa harapan baru. Indonesia tak hanya kembali ramai, tetapi juga membuktikan ketangguhannya sebagai destinasi dunia. Tantangannya kini adalah mendorong belanja turis agar dampak ekonominya makin terasa bagi masyarakat lokal.(*)

Penulisan: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin