Survei APJII: 72,66 Persen Warga RI Masih Enggan Pakai AI

kaltimes.com
29 Agu 2025
Share

SUARA teknologi kian menggema, tetapi tidak semua orang ikut larut di dalamnya. Sebagian besar publik Indonesia justru masih menjaga jarak dari kecerdasan buatan atau AI.

Integrasi AI kini merambah banyak bidang. Teknologi ini membantu kerja lebih cepat, mengurangi kesalahan, dan mendongkrak produktivitas. Meski begitu, survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan mayoritas warga RI masih enggan memakai AI.

APJII menggelar survei pada 10 April–16 Juli 2025 dengan melibatkan 8.700 responden di 38 provinsi. Semua responden berusia minimal 13 tahun, dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei ini tercatat 1,1 persen.

Hasilnya, 72,66 persen responden mengaku tidak menggunakan AI pada 2025. Angka tersebut turun tipis dari 2024 yang mencapai 75,28 persen. Artinya, hanya sekitar 1 dari 4 penduduk Indonesia yang kini memakai AI.

Ada banyak alasan publik RI menjauh dari AI. Sebanyak 46,56 persen responden menyebut tidak tahu apa itu AI. Angka ini menunjukkan kesenjangan teknologi, terutama di daerah yang belum mengenal teknologi tersebut.

Sebanyak 22,68 persen merasa tidak membutuhkan AI karena mereka menilai pekerjaan bisa diselesaikan tanpa bantuan teknologi. Lalu, 15,5 persen bingung cara menggunakan AI. Kondisi ini menandakan perlunya pelatihan yang lebih luas.

Sebagian kecil responden menyampaikan alasan lain. Tercatat 3,57 persen khawatir pada privasi data, 3,51 persen merasa sulit menggunakan AI, dan 2,09 persen tidak memiliki perangkat atau akses memadai.

Hambatan Struktural, Bukan Pilihan Pribadi

Data ini menegaskan bahwa hambatan utama publik Indonesia bukan soal keinginan pribadi, melainkan faktor struktural. Ketidaktahuan tentang AI yang mencapai 46,56 persen menyoroti rendahnya literasi digital. Sementara itu, 15,5 persen yang tidak tahu cara memakai AI mencerminkan keterampilan teknis yang masih minim.

Kendala akses juga menjadi masalah nyata. Sebagian responden tidak memiliki perangkat memadai atau jaringan internet yang stabil. Ditambah kekhawatiran soal privasi dan kesulitan teknis, AI tetap terasa jauh dari keseharian masyarakat.

Dengan kata lain, adopsi AI di Indonesia belum berjalan merata karena publik masih terbatas pada pengetahuan, keterampilan, dan akses teknologi.
Pertanyaan besar pun muncul, apakah Indonesia siap menyambut masa depan digital tanpa meninggalkan sebagian warganya? (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin