Soal Pendidikan dari Angka RLS, Balikpapan Lagi-lagi Mengungguli Samarinda

kaltimes.com
19 Feb 2025
Share

PENDIDIKAN Merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Di Indonesia, upaya peningkatan akses dan kualitas pendidikan terus dilakukan. Hal ini tercermin dari perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) dari tahun ke tahun. RLS adalah indikator untuk mengukur rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan penduduk dalam menempuh pendidikan formal. RLS terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diakses pada pukul 7.56 Wita, 3 Februari 2025, RLS di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 9,22 tahun, setara dengan kelas 9 SMP. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2023, di mana RLS berada di 9,13 tahun. Capaian RLS tahun 2024 juga telah melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, yaitu 9,18 tahun. RPJM sendiri adalah dokumen perencanaan pembangunan yang disusun oleh pemerintah untuk jangka waktu lima tahun. Data ini mencerminkan kemajuan dalam bidang pendidikan di Indonesia, di mana masyarakat semakin lama mengenyam pendidikan formal. Hal ini mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Peningkatan RLS juga terjadi pada Provinsi Kalimantan Timur. Berdasarkan data BPS Kaltim tahun 2024, RLS di Kalimantan Timur mencapai 10,02 tahun, setara dengan tingkat pendidikan kelas 1 SMA sederajat. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang tercatat 9,99 tahun. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan dalam akses pendidikan formal di wilayah tersebut. Selain itu, RLS Kalimantan Timur juga lebih tinggi dibandingkan dengan target RLS yang ditetapkan dalam RPJM Nasional. Capaian ini mengindikasikan peningkatan akses pendidikan di Kalimantan Timur.

Setiap kota dan kabupaten di Kalimantan Timur mengalami kenaikan RLS. Tiga kota dengan RLS tertinggi adalah Kota Balikpapan (10,99 tahun), Kota Bontang (10,97 tahun) dan Kota Samarinda (10,95 tahun). Tingginya RLS di ketiga kota ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti tersedianya fasilitas pendidikan yang lebih lengkap, akses terhadap sekolah yang lebih mudah, serta tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi, sehingga lebih banyak penduduk yang dapat menyelesaikan jenjang pendidikan hingga tingkat menengah atau lebih tinggi.

Meskipun demikian terdapat tiga kabupaten dengan RLS terendah di Kalimantan Timur adalah Kabupaten Mahakam Ulu (8,5 tahun), Kabupaten Penajam Paser Utara (8,57 tahun) dan Kabupaten Kutai Barat (8,89 tahun). Rendahnya RLS di ketiga kabupaten ini menunjukkan adanya tantangan dalam bidang pendidikan, seperti keterbatasan akses ke fasilitas pendidikan, kualitas pengajaran yang belum optimal, dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah.

Berdasarkan penelitian Suharno dan Wahyudi (2019) dalam jurnal “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rata-rata Lama Sekolah di Indonesia”, ketersediaan infrastruktur pendidikan dan tingkat kesejahteraan masyarakat adalah dua faktor penting yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan RLS. Daerah dengan RLS rendah biasanya menghadapi berbagai masalah, seperti jarak ke sekolah yang jauh, kurangnya guru berkualitas, dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.

Pendidikan memang menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, dan perkembangan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur, menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi. Peningkatan RLS secara nasional maupun di Kaltim, seperti di Kota Balikpapan, Bontang, dan Samarinda, membuktikan bahwa akses dan kualitas pendidikan semakin membaik. Namun, kesenjangan yang masih terlihat di beberapa kabupaten, seperti Mahakam Ulu, Penajam Paser Utara, dan Kutai Barat, mengingatkan kita bahwa pembangunan pendidikan belum merata.

Faktor seperti ketersediaan infrastruktur, kualitas tenaga pengajar, dan tingkat kesejahteraan masyarakat menjadi kunci utama dalam meningkatkan RLS. Sayangnya, di daerah-daerah tertinggal, ketiga faktor ini masih menjadi tantangan besar. Jarak sekolah yang jauh, minimnya fasilitas pendidikan, dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan lanjutan menghambat kemajuan. Pemerintah perlu lebih serius dalam mengatasi masalah ini dengan memperbaiki distribusi fasilitas pendidikan, meningkatkan kualitas guru, dan memberikan dukungan ekonomi kepada keluarga kurang mampu agar anak-anak mereka bisa terus bersekolah.

Selain itu, kebijakan pendidikan harus lebih inklusif dan menyentuh daerah-daerah terpencil. Peningkatan RLS tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang memastikan setiap anak, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan berkualitas. Tanpa upaya yang lebih terarah dan berkelanjutan, kesenjangan pendidikan di Kaltim akan terus melebar, dan potensi sumber daya manusia di daerah tertinggal tidak akan pernah tergali secara optimal. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin