TANGIS haru dan sorak kegembiraan pecah di berbagai sudut rumah saat layar gawai menampilkan pengumuman biru. Momen ini menjadi puncak penantian panjang ratusan ribu siswa di seluruh Indonesia.
Panitia seleksi resmi merilis hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 pada Selasa, 31 Maret 2026. Dari total 774,26 ribu pendaftar, hanya 162,12 ribu peserta yang berhasil lolos atau sekitar 20,09 persen. Data ini menegaskan ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
Dominasi Teknik dan Kesehatan di Kampus Top

Ketatnya persaingan tersebut tercermin dari konsentrasi pilihan pada program studi tertentu. Data siaran langsung SNPMB ID (31/3/2026), menunjukkan lonjakan peminat pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) di Institut Teknologi Bandung. Jurusan ini mencapai 2,02 ribu pendaftar, sementara daya tampungnya hanya 95 kursi.
Tingginya minat ini menunjukkan bahwa teknik pertambangan dipandang menjanjikan. Prospeknya didorong potensi pendapatan tinggi dan kebutuhan tenaga ahli di sektor energi serta sumber daya alam.
Selain teknik, bidang kesehatan tetap menjadi pilihan utama. Program Pendidikan Dokter di Universitas Indonesia mencatatkan 1,94 ribu pendaftar, disusul Kedokteran di Universitas Gadjah Mada dengan 1,90 ribu peminat.
Pola ini menunjukkan bahwa program studi dengan prospek karier jelas masih menjadi magnet utama bagi calon mahasiswa.
Tren Teknologi dan Ilmu Hukum
Dominasi tersebut kemudian meluas ke bidang lain yang juga dianggap relevan dengan kebutuhan masa depan. Jurusan berbasis teknologi seperti Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI-K) di Institut Teknologi Bandung menarik 1,85 ribu pendaftar. Sementara itu, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) di kampus yang sama mencatatkan 1,62 ribu peminat.
Di sisi lain, Universitas Padjadjaran melalui program Farmasi dan Ilmu Keperawatan masing-masing mencatatkan 1,62 ribu dan 1,60 ribu pendaftar, serta Kedokteran di Universitas Airlangga dengan 1,55 ribu peminat.
Sementara itu, bidang sosial humaniora tetap menunjukkan daya tariknya. Program Hukum di Universitas Diponegoro mencatatkan 1,53 ribu pendaftar, sedangkan Ilmu Hukum di Universitas Indonesia diminati sekitar 1,42 ribu peserta.
Data ini menunjukkan bahwa, di tengah tren teknologi dan kesehatan, bidang hukum masih relevan dan diminati.
Tantangan Ketimpangan Peminat Program Studi
Konsentrasi peminat pada program studi unggulan ini kemudian memunculkan tantangan baru. Rasio penerimaan di FTTM Institut Teknologi Bandung yang mencapai 1:21 menggambarkan kecilnya peluang lolos.
Fenomena ini menegaskan bahwa sebagian besar siswa masih berfokus pada program studi favorit, meskipun tingkat persaingannya sangat tinggi.
Akibatnya, terjadi penumpukan peminat pada sektor kesehatan dan teknologi di kampus-kampus besar, terutama di Pulau Jawa. Kondisi ini membuat persaingan menjadi tidak seimbang dibandingkan dengan program studi lain yang sebenarnya juga memiliki prospek karier menjanjikan, namun kurang diminati.
Keberhasilan menembus universitas impian hanyalah langkah awal dalam perjalanan panjang menuju masa depan. Bagi yang belum berhasil, kegagalan dalam seleksi ini bukan akhir, melainkan peluang untuk menemukan jalur lain menuju kesuksesan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin