Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Kaltim Masih Berjuang Atasi 19 Persen Remaja Tak Lanjut SMA

kaltimes.com
20 Mei 2025
Share

HARI Kebangkitan Nasional adalah momentum untuk percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib bangsa. Di Kalimantan Timur, semangat itu terlihat nyata. Hampir semua anak usia sekolah dasar kini telah mengenyam bangku pendidikan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak usia 7 hingga 12 tahun mencapai 99,69 persen. Artinya, hampir seluruh anak usia sekolah dasar sudah mengenyam pendidikan formal. Ini merupakan sinyal positif bahwa akses pendidikan dasar di provinsi ini sudah nyaris merata.

Memasuki jenjang menengah pertama, yaitu usia 13 hingga 15 tahun, partisipasi sekolah masih tergolong tinggi, yakni sebesar 98,73 persen. Meski sedikit menurun, sebagian besar anak tetap melanjutkan sekolah setelah lulus SD. Namun mulai muncul tantangan seperti jarak, ekonomi, dan beban rumah tangga, terutama di wilayah pedalaman.

Penurunan yang lebih nyata terjadi saat anak menginjak usia 16 hingga 18 tahun, masa SMA atau SMK. Angka partisipasi sekolah turun cukup signifikan menjadi 81,84 persen. Artinya, hampir satu dari lima remaja di Kalimantan Timur tidak lagi duduk di bangku sekolah. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin berat pula tantangan yang dihadapi keluarga. Banyak remaja terpaksa putus sekolah karena harus bekerja, menikah muda, atau terbatasnya akses ke SMA dan SMK.

Data lebih lanjut menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan pada kelompok usia 19 hingga 23 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 33 persen yang masih terlibat dalam pendidikan formal atau melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi atau pendidikan vokasi lainnya. Angka ini mencerminkan masih banyaknya remaja dan pemuda yang belum mendapatkan kesempatan pendidikan yang memadai hingga usia produktif.

Melihat data ini, Kalimantan Timur belum benar-benar bangkit jika remaja usia produktif masih terpinggirkan dari pendidikan layak. Kebangkitan tak cukup diukur dari pembangunan fisik atau capaian ekonomi semata. Momentum Kebangkitan Nasional semestinya mendorong pendidikan tak sekadar dijangkau, tapi dijalani hingga tuntas oleh seluruh anak bangsa.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin