GENERASI Z (kelahiran 1997-2012) dan Millennial (kelahiran 1981–1996) di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memiliki rumah. Salah satu penyebab utama adalah kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan.
Menurut Trading Economics yang diakses pada 13 Februari 2025 pukul 08.32 Wita, harga properti residensial di Indonesia naik rata-rata 3,73 persen per tahun dari 2003 hingga 2024. Artinya, harga rumah terus meningkat setiap tahunnya. Namun, pada kuartal ketiga tahun 2013, terjadi lonjakan harga properti yang jauh lebih tinggi, mencapai 13,51 persen dalam satu tahun. Ini menandakan bahwa pada periode tersebut, harga rumah meningkat dengan sangat cepat dibandingkan rata-rata tahunan.
Survei Inventure Indonesia diakses pukul 09.19 Wita,13 Februari 2025, pada September 2024 terhadap 450 responden kelas menengah yang terdiri dari 60 persen Millennial dan 40 persen Gen Z. Survei menunjukkan bahwa 65 persen responden tidak yakin bisa membeli rumah dalam tiga tahun ke depan.

Mayoritas responden (80 persen) menyebut harga rumah yang terlalu tinggi sebagai alasan utama. Selain itu, 45 persen mengaku pendapatan mereka tidak mencukupi, sedangkan 34 persen memiliki pekerjaan yang tidak tetap. Beberapa responden juga lebih memilih pengalaman konsumsi seperti konser, traveling, dan gadget (24 persen). Kesulitan mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi kendala bagi 22 persen responden. Selain itu, 13 persen lainnya sudah terbebani dengan cicilan utang, seperti pinjaman online dan paylater.
Sebaliknya, generasi sebelum Gen Z dan Milenial, seperti Generasi X dan Baby Boomers, lebih mudah membeli rumah. Harga properti pada masa mereka lebih terjangkau, dan persaingan pasar tidak seketat saat ini.
Menurut Bank Indonesia (2022), kenaikan harga properti dalam dekade terakhir melampaui pertumbuhan pendapatan masyarakat, sehingga menyulitkan generasi muda memiliki rumah. Selain itu, kebijakan perbankan pada era 1990-an hingga awal 2000-an lebih longgar. Bunga KPR lebih rendah dan persyaratannya lebih sederhana dibandingkan dengan saat ini.
Selain faktor harga, kebiasaan finansial Gen Z dan Milenial juga memengaruhi kesulitan mereka dalam membeli rumah. Studi oleh Pertiwi & Suryanto (2023) dalam Jurnal Ekonomi dan Keuangan Digital menyebutkan bahwa Gen Z cenderung lebih konsumtif. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk teknologi, hiburan, dan makanan. Hal ini mengurangi kemampuan mereka menabung untuk uang muka rumah.
Pola konsumsi ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital yang menawarkan kemudahan dalam berbelanja dan hiburan. Kemunculan e-commerce, layanan streaming, serta sistem pembayaran digital seperti paylater mendorong perilaku konsumtif di kalangan Gen Z. Selain itu, media sosial berperan dalam meningkatkan gaya hidup berbasis tren. Mereka lebih memilih membeli produk atau pengalaman yang sedang tren daripada menabung untuk investasi jangka panjang seperti rumah.
Kebiasaan konsumtif ini bukan satu-satunya penyebab. Rahmawati et al. (2022) dalam Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota menunjukkan bahwa kenaikan harga properti di perkotaan sudah jauh melampaui pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa faktor spekulasi properti, keterbatasan lahan, dan dominasi investor dalam pasar perumahan semakin memperburuk akses bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Akibatnya, Gen Z dan Milenial semakin sulit memiliki rumah, terutama di kota-kota besar. Dengan harga yang terus melonjak, bahkan mereka yang memiliki pendapatan stabil pun kesulitan mengumpulkan uang muka. Hal ini diperparah dengan kebijakan perbankan yang semakin ketat dalam pemberian KPR. Kondisi ini membuat kepemilikan rumah menjadi tantangan yang kian berat bagi Gen Z dan Milenial.
Secara keseluruhan, tantangan memiliki rumah bagi Gen Z dan Milenial bukan hanya soal harga yang terus meningkat, tetapi juga kebiasaan finansial serta kebijakan KPR yang semakin ketat. Tanpa adanya perubahan signifikan dalam kebijakan perumahan dan pola pengelolaan keuangan, kepemilikan rumah bagi generasi muda akan semakin sulit dicapai.
Di tengah situasi ini, diperlukan keseimbangan antara perencanaan keuangan pribadi dan kebijakan yang lebih inklusif dari pemerintah. Gen Z dan Milenial perlu lebih bijak dalam mengelola pengeluaran dan menempatkan kepemilikan rumah sebagai prioritas jangka panjang. Di sisi lain, Pemerintah harus mempermudah akses hunian dengan subsidi, insentif KPR, dan pengendalian harga properti agar tetap terjangkau. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin