Fakta Menunjukkan: Ekonomi Kaltim Sangat Bergantung dengan Tiongkok

kaltimes.com
9 Feb 2025
Share

EKSPOR Merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kinerja ekonomi suatu negara. Aktivitas ekspor tidak hanya mencerminkan daya saing produk domestik di pasar global, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa negara. Dengan perkembangan berbagai sektor industri dan dukungan kebijakan perdagangan, kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diakses pada pukul 16.02 Wita, 23 Januari 2025, nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2024 tercatat sebesar USD 24,41 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 10,69 persen dibandingkan September, yang mencapai USD 21,80 miliar. Ekspor nonmigas memberikan kontribusi signifikan dengan nilai USD 23,07 miliar, meningkat 10,35 persen dibandingkan September 2024. Hal ini mencerminkan pertumbuhan yang konsisten dari sektor tersebut.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari hingga Oktober 2024 mencapai USD 217,24 miliar, meningkat 1,33 persen dibandingkan periode Januari hingga Oktober 2023. Kontribusi terbesar datang dari ekspor nonmigas dengan nilai USD 204,21 miliar, naik 1,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lantas bagaimana dengan kinerja ekspor Kaltim? Nah, Berdasarkan data dari BPS Kaltim yang diakses pukul 17.20 Wita, 23 Januari 2025, provinsi ini mencatatkan kinerja ekspor yang signifikan pada Oktober 2024, dengan total nilai ekspor mencapai USD 2.195,81 juta, yang meningkat 34,47 persen dibandingkan bulan sebelumnya, September 2024. Angka itu meningkat didorong oleh lonjakan ekspor migas yang meningkat 167,65 persen menjadi USD 306,24 juta, serta peningkatan ekspor nonmigas sebesar 24,44 persen menjadi USD 1.889,57 juta.

Meski demikian, secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2024, nilai ekspor Kalimantan Timur mengalami penurunan sebesar 11,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023. Total ekspor Kalimantan Timur pada tahun 2023 mencapai USD 22.674,56 juta, sedangkan pada 2024 tercatat sebesar USD 20.057,41 juta.

Komposisi sektor ekspor Kalimantan Timur juga menunjukkan gambaran yang jelas mengenai kontribusi masing-masing sektor terhadap total ekspor. Selama Januari hingga Oktober 2024, hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor Kalimantan Timur dengan kontribusi mencapai 73,81 persen dari total nilai ekspor. Sektor industri menyumbang 16,41 persen, sementara migas berada di posisi ketiga dengan kontribusi 9,78 persen.

Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor Kalimantan Timur dengan nilai mencapai USD 6.561,29 juta (36,19 persen). Angka itu yang menunjukkan dominasi pasar Tiongkok dalam perekonomian Kalimantan Timur. Posisi kedua ditempati oleh India dengan ekspor senilai USD 2.926,86 juta (16,14 persen), diikuti oleh Filipina yang menerima ekspor Kalimantan Timur senilai USD 1.598,20 juta (8,82 persen). Ketiga negara ini menjadi mitra utama yang menyerap sebagian besar hasil ekspor dari Kalimantan Timur.

Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor Kalimantan Timur dengan nilai mencapai USD 6.561,29 juta (36,19 persen). Produk yang diekspor mencakup batu bara, minyak mentah, dan kayu olahan. Angka itu menunjukkan dominasi pasar Tiongkok dalam perekonomian Kalimantan Timur. Posisi kedua ditempati oleh India dengan ekspor senilai USD 2.926,86 juta (16,14 persen). Produk yang didominasi oleh komoditas batu bara dan minyak mentah. Diikuti oleh Filipina yang menerima ekspor Kalimantan Timur senilai USD 1.598,20 juta (8,82 persen), dengan produk utama seperti batu bara. Ketiga negara ini menjadi mitra utama yang menyerap sebagian besar hasil ekspor dari Kalimantan Timur.

Pelabuhan-pelabuhan di Kalimantan Timur juga memainkan peran penting dalam mendukung peningkatan ekspor provinsi ini. Tiga pelabuhan utama di Kalimantan Timur memberikan kontribusi signifikan terhadap nilai ekspor provinsi ini pada Oktober 2024. Pelabuhan Semayang di Balikpapan mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 578,3 juta, diikuti oleh Pelabuhan Samarinda dengan nilai USD 516,92 juta, dan Pelabuhan Bontang yang mencatatkan ekspor senilai USD 345,48 juta.

Jika data sebelumnya adalah nilai ekspor Kaltim ke sejumlah negara, sekarang mari bandingkan dengan dengan angka impor provinsi ini. Impor Kalimantan Timur pada Oktober 2024 mengalami lonjakan signifikan. Nilai impor tercatat sebesar USD 758,08 juta, meningkat 74,00 persen dibandingkan dengan bulan September 2024. Impor migas mengalami kenaikan tajam sebesar 107,51 persen, mencapai USD 570,12 juta, sementara impor nonmigas juga mencatatkan kenaikan sebesar 16,79 persen, dengan total mencapai USD 187,96 juta.

Tiongkok menjadi negara asal barang impor terbesar, dengan nilai mencapai USD 411,01 juta (32,63 persen), mencakup produk seperti mesin dan peralatan elektronik, bahan kimia, serta tekstil. Diikuti oleh Amerika Serikat yang mencatatkan nilai impor sebesar USD 178,78 juta (14,19 persen) dan Jepang dengan nilai impor sebesar USD 88,87 juta (7,06 persen).

Berdasarkan jurnal Analisis Pengaruh Perdagangan Internasional (Ekspor dan Impor) terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia oleh Dina Devitasari dan rekan-rekannya (2023), peningkatan ekspor Indonesia memberikan dampak positif bagi perekonomian dengan meningkatkan penerimaan devisa serta memperkuat cadangan devisa negara. Selain itu, ekspor nonmigas dan hasil tambang dari Kalimantan Timur, mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Negara tujuan ekspor seperti Tiongkok, India, dan Filipina membuka peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan hubungan perdagangan internasional, serta memperkuat pengaruh Indonesia di kawasan Asia.

Dampak dari penurunan ekspor Kalimantan Timur sebesar 11,56 persen secara kumulatif menunjukkan ketergantungan tinggi pada sektor migas dan tambang, yang menghadapi tantangan terkait permintaan global dan fluktuasi harga komoditas. Selain itu, lonjakan impor migas yang signifikan memperburuk defisit perdagangan dan meningkatkan ketergantungan Indonesia pada energi impor, yang berisiko memperlemah ketahanan ekonomi domestik, terutama jika harga energi global mengalami ketidakstabilan.

Ekspor Indonesia mengalami peningkatan pada Oktober 2024 terutama dari sektor nonmigas dan tambang. Meskipun demikian, ekspor Kalimantan Timur secara kumulatif menurun. Hal ini menunjukkan ketergantungan tinggi pada migas dan tambang. Meskipun pelabuhan utama dan negara tujuan ekspor membuka peluang pasar, lonjakan impor migas memperburuk defisit perdagangan dan meningkatkan ketergantungan Indonesia pada energi impor, yang berisiko melemahkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakstabilan harga energi global. Penting untuk diversifikasi sektor ekspor dengan lebih fokus pada pengembangan industri hilir dan sektor nonmigas lainnya guna mengurangi ketergantungan pada migas, serta meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan energi domestik agar lebih mandiri. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin