KABAR BAIK datang dari sektor ekonomi syariah: Indonesia berhasil menembus posisi tiga besar dunia. Capaian ini bukan sekadar angka, tapi mencerminkan potensi besar yang dimiliki negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia.
Laporan ini berasal dari State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2023/2024 oleh DinarStandard lembaga riset strategi pertumbuhan global yang berbasis di Dubai. SGIER merupakan laporan tahunan yang memetakan kekuatan ekonomi syariah dari 81 negara, berdasarkan berbagai sektor. Untuk menentukan peringkat, DinarStandard menggunakan indikator Global Islamic Economy Indicator (GIEI) yang menilai enam sektor utama: keuangan syariah, makanan halal, wisata ramah muslim, media dan rekreasi, busana muslim, serta farmasi dan kosmetik halal.
Dalam laporan tahun 2023, Malaysia menempati posisi pertama dengan skor total 193,2, mempertahankan dominasinya selama sepuluh tahun berturut-turut. Di bawahnya, Arab Saudi menyusul dengan skor 93,6. Indonesia berhasil berada di posisi ketiga dengan skor 80,1, mengungguli Uni Emirat Arab (79,8), Bahrain (75), Iran (74,6), Turki (74), Singapura (62,7), Kuwait (60,2) dan Qatar (57,1).

Meski prestasi Indonesia patut diapresiasi, jarak skor Indonesia dengan Malaysia masih cukup lebar. Artinya, masih ada ruang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem ekonomi syariahnya. Khususnya di sektor-sektor non-keuangan seperti rekreasi halal, farmasi, dan kosmetik halal yang masih belum optimal digarap.
Menariknya, Singapura yang bukan negara mayoritas muslim berhasil menembus posisi kedelapan dunia dengan skor 62,7. Lebih dari itu, Singapura menempati posisi pertama secara global dalam sektor farmasi dan kosmetik halal, serta posisi kedua dalam media dan rekreasi.
Pencapaian Singapura menunjukkan keberhasilannya dalam mengakomodasi kebutuhan muslim meski minoritas. Selain itu Singapura dapat menjadi contoh bagaimana pendekatan inklusif dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi berbasis nilai-nilai syariah. Sementara itu, Malaysia tetap menjadi pemimpin tak tergoyahkan dengan skor jauh di atas negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Dengan capaian sebagai tiga besar ekonomi syariah dunia, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk tumbuh lebih jauh. Inovasi halal dan penguatan pelaku usaha lokal perlu didorong agar Indonesia bisa mengejar Malaysia. Kebijakan yang konsisten jadi kunci untuk mempercepat langkah ini. Di era global ini, ekonomi syariah bukan hanya soal agama, tapi juga potensi besar untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin