Biaya Pendidikan Naik Tajam: SD hingga Kuliah Makin Mahal

kaltimes.com
16 Jul 2025
Share

SETIAP tahun ajaran baru datang, bukan hanya tas dan seragam yang disiapkan orang tua, tapi juga hati yang harus kuat melihat tagihan. Di negeri yang katanya menjunjung pendidikan untuk semua,  biaya sekolah justru makin terasa sebagai kemewahan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan dalam biaya pendidikan dari tahun ajaran 2017/2018 ke 2023/2024. Biaya tahunan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) mengalami kenaikan tajam, dari sekitar Rp 2,4 juta pada tahun ajaran 2017/2018 menjadi Rp 4,56 juta pada 2023/2024.

Kenaikan ini hampir mencapai dua kali lipat dalam kurun enam tahun, dan bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi banyak keluarga, terutama di daerah dengan penghasilan yang stagnan, lonjakan biaya ini menjadi beban yang semakin sulit ditanggung.

Di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), biaya yang semula Rp 4,23 juta pada tahun ajaran 2017/2018 kini naik menjadi Rp 7,34 juta per tahun. Artinya, orang tua harus menyiapkan lebih dari Rp 600 ribu per bulan hanya untuk satu anak yang duduk di bangku SMP.

Kenaikan juga terjadi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dari Rp 6,53 juta menjadi Rp 10,19 juta per tahun. Lonjakan ini memperbesar risiko anak putus sekolah bagi keluarga yang ekonominya terbatas.

Sementara itu, untuk perguruan tinggi, biaya tahunan kini menyentuh angka Rp 19,01 juta. Nilai ini naik dari Rp 15,33 juta pada 2017/2018. Di tengah harapan agar pendidikan tinggi menjadi pintu mobilitas sosial, kenyataan ini justru menunjukkan bahwa kuliah makin terasa sebagai hak istimewa, bukan hak dasar.

Semua biaya ini adalah rata-rata untuk sekolah negeri, sudah termasuk hal-hal penting seperti SPP, ongkos transport, baju seragam, dan uang jajan. Namun dalam prakteknya, beban ini menjadi tantangan berat yang harus dihadapi jutaan keluarga Indonesia, setiap tahun.

Lonjakan ini menyisakan satu pertanyaan besar: siapa yang masih sanggup sekolah jika biaya terus meroket? Tanpa upaya serius menekan ongkos pendidikan, akses ke sekolah bukan lagi soal niat dan mimpi tapi soal isi dompet.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin