DELAPAN PULUH tahun merdeka, Indonesia masih berjuang mengejar ketertinggalan. Di era serba digital, internet cepat menjadi kebutuhan. Namun Indonesia belum mampu masuk jajaran terdepan dunia.
Menurut laporan Speedtest Global Index oleh Ookla per Juni 2025, peringkat ini diambil dari hasil uji kecepatan internet pengguna Speedtest di berbagai negara. Data berasal dari beragam perangkat dan wilayah, memberi gambaran nyata performa internet yang dirasakan masyarakat.
Uni Emirat Arab kembali memimpin sebagai negara dengan internet mobile tercepat di dunia. Rata-rata unduhnya mencapai 546,14 Mbps. Qatar menempati posisi kedua dengan 517,44 Mbps, disusul Kuwait di posisi ketiga dengan 378,45 Mbps. Tiga negara Timur Tengah ini konsisten membangun jaringan seluler berkualitas tinggi.
Bahrain (236,77 Mbps), Brasil (228,89 Mbps) dan Bulgaria (224,46 Mbps) juga masuk 10 besar, membuktikan kecepatan internet tidak hanya dikuasai negara Barat.
Dari Asia, Korea Selatan mencatat 218,06 Mbps, China 201,67 Mbps, dan Arab Saudi 198,39 Mbps. Denmark menjadi satu-satunya wakil Eropa Utara di daftar ini dengan 196,27 Mbps.

Indonesia berada di posisi ke-87 dari 103 negara. Rata-rata kecepatan internetnya hanya 41,24 Mbps. Angka ini jauh di bawah Malaysia yang sudah melesat ke posisi ke-17 dunia dengan 156,55 Mbps. Bahkan jika kecepatan internet Indonesia dikalikan tiga, hasilnya belum menyamai Malaysia. Fakta ini menunjukkan masih lebarnya kesenjangan infrastruktur dan pemerataan layanan digital di tanah air.
Internet cepat adalah kunci daya saing di era modern. Tanpa perbaikan signifikan, Indonesia akan terus tertinggal dalam kompetisi global yang bergerak kian cepat.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin