GULA merupakan kebutuhan pokok di setiap dapur. Tapi di balik rasa manis itu, ada fakta pahit soal ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Berdasarkan laporan resmi dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Indonesia tercatat sebagai pengimpor gula terbesar di dunia untuk periode perdagangan 2023/2024. Laporan ini dirilis lewat publikasi bertajuk Sugar: World Markets and Trade.
Volume impor Indonesia mencapai 5 juta metrik ton. Angka ini jauh di atas negara-negara lain yang juga memiliki konsumsi tinggi. China, dengan penduduk empat kali lebih banyak dari Indonesia, hanya mengimpor 4,3 juta metrik ton. Di posisi berikutnya ada Amerika Serikat dengan 3,3 juta ton dan Uni Eropa sebesar 2,8 juta ton.
Bahkan dibanding negara tetangga seperti Malaysia yang mengimpor 1,8 juta ton, ketergantungan Indonesia jauh lebih besar. Negara lain seperti India, Bangladesh, dan Nigeria juga tercatat sebagai importir besar, namun masih di bawah Indonesia.

Data USDA menyoroti kesenjangan antara kebutuhan dan produksi gula dalam negeri. Permintaan tak hanya datang dari rumah tangga, tapi juga dari industri makanan dan minuman yang terus berkembang.
Produksi nasional belum bisa mengejar pertumbuhan konsumsi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), permintaan gula industri naik rata-rata 4–5 persen tiap tahun dalam lima tahun terakhir. Ketergantungan pada impor membuat harga gula dalam negeri mudah terganggu oleh naik-turunnya harga global, nilai tukar rupiah, dan kebijakan negara eksportir.
Lonjakan impor ini jadi peringatan serius. Indonesia perlu mengejar keseimbangan antara konsumsi dan produksi agar tidak terus tergantung pada pasar luar negeri. Ketahanan pangan harus dibangun dari dalam negeri.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin