Ekspor Kerupuk Indonesia Capai 16,5 Ribu Ton, Korea Selatan Dominan

kaltimes.com
21 Jul 2025
Share

DI BALIK bunyi “kriuk” yang renyah, kerupuk bukan sekadar pelengkap makan. Ia membawa rasa rumah yang dirindukan banyak orang Indonesia di luar negeri. Produk sederhana ini diam-diam menjelma menjadi komoditas ekspor yang menjangkau puluhan negara.

Indonesia tak hanya aktif dalam ekspor komoditas besar, tetapi juga makanan ringan khas seperti kerupuk, keripik, dan peyek. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor produk-produk ini mencapai 16.546,2 ton sepanjang 2024, tersebar ke 27 negara. Meski masih tinggi, volume tersebut turun 5,64 persen dibandingkan 2023 yang mencapai 17.540,45 ton.

Dari seluruh negara tujuan, Korea Selatan masih menjadi pasar utama ekspor kerupuk Indonesia. Sepanjang 2024, sebanyak 5,6 ribu ton kerupuk dikirim ke Negeri Ginseng, atau setara 34 persen dari total volume ekspor. Posisi kedua diisi oleh Malaysia dengan volume 4,5 ribu ton, menunjukkan kuatnya hubungan dagang dan budaya makanan antara dua negara serumpun ini.

Belanda dan Inggris masing-masing mencatat impor sebesar 1,9 ribu ton dan 1,3 ribu ton. Data ini mencerminkan tingginya minat diaspora Indonesia dan konsumen Eropa terhadap makanan ringan tradisional.

Di Asia Tenggara, Singapura mencatat volume sebesar 890 ton, disusul China dengan 780 ton. Sementara itu, Arab Saudi yang menjadi tujuan utama bagi pekerja migran Indonesia, juga mengimpor 400 ton kerupuk dari Indonesia pada 2024.

Tren ini menegaskan produk lokal seperti kerupuk memiliki potensi besar di pasar global. Namun, penurunan volume ekspor tahun ini menjadi catatan penting bagi pelaku industri untuk memperkuat daya saing, menjaga kualitas, dan memastikan rantai pasok tetap efisien. Kerupuk mungkin ringan, tapi peran ekonominya tak bisa diremehkan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin