PEMBOKARAN Pasar Subuh di Samarinda pada Jumat pagi memicu reaksi beragam dari para pedagang. Sebagian pedagang menolak relokasi karena keberatan dengan pemindahan lokasi usaha mereka. Sebagian lainnya menerima tawaran Pemerintah Kota Samarinda yang memberikan kompensasi berupa uang relokasi.
Pasar Subuh telah lama menjadi pusat ekonomi, khususnya bagi pedagang daging. Keputusan pemerintah untuk membongkar pasar ini diambil demi penataan kota dan peningkatan fasilitas umum.
Dilansir dari Tribun Kaltim, proses pembongkaran berlangsung dengan pengawasan ketat dari aparat keamanan. Beberapa pedagang sempat melakukan protes, namun situasi tetap terkendali. Pemerintah Kota Samarinda menawarkan uang relokasi kepada para pedagang yang bersedia pindah ke lokasi baru. Mayoritas pedagang daging menerima tawaran ini, melihatnya sebagai kesempatan untuk berjualan di tempat yang lebih layak dan tertata. (https://kaltim.tribunnews.com/2025/05/09/viral-detik-detik-pasar-subuh-samarinda-dibongkar-pedagang-sempat-menolak, Tribun Kaltim, 2025)
Kepala Dinas Perdagangan Samarinda menyatakan bahwa relokasi ini adalah bagian dari upaya penataan kota. Pemerintah ingin menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih sehat dan teratur. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk menyediakan fasilitas yang memadai di lokasi baru agar para pedagang dapat melanjutkan usaha mereka tanpa hambatan berarti.
Kebijakan relokasi memang menuai pro dan kontra di kalangan pedagang. Meski begitu, pembongkaran Pasar Subuh menjadi langkah awal dalam penataan kawasan perdagangan di Samarinda. Keberhasilan program ini bergantung pada komitmen pemerintah dalam mendampingi pedagang beradaptasi di lokasi baru. Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan ekonomi para pedagang tetap terjaga.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin