LANGIT gelap yang menggantung di atas Samarinda sejak dini hari, berubah menjadi mimpi buruk bagi warganya. Banjir dan longsor datang tanpa ampun, menyapu permukiman dan jalanan, menyisakan kepanikan serta duka di sudut-sudut kota.
Hujan deras mengguyur Samarinda dan sejumlah daerah di Kalimantan Timur sejak pukul 04.00 hingga 12.00 Wita, Senin (12/5/2025). Mengutip Tribun Kaltim, curah hujan tinggi selama berjam-jam mengubah jalan-jalan utama Samarinda menjadi sungai dadakan. Kondisi ini juga memicu longsor di lereng inlet tunnel Samarinda, Jalan Sultan Alimuddin.
Material longsor menutup sebagian akses portal terowongan pada pukul 09.17 Wita. Kejadian ini diperparah oleh keberadaan material longsoran masa lampau yang selama ini tersembunyi di balik ketenangan lereng. Sehari sebelumnya, pemantauan bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya.(https://kaltim.tribunnews.com/2025/05/13/banjir-kepung-wilayah-kaltim-genangan-air-rendam-samarinda-kukar-hingga-bontang, Tribun Kaltim, 2025)
Di tengah kondisi itu, warga Tenggarong juga harus berjibaku dengan genangan air yang mencapai lutut orang dewasa di Jalan Belida, Kelurahan Timbau. Aktivitas lumpuh total. Beberapa pengendara yang nekat melintasi banjir terpaksa mendorong kendaraan mereka yang mogok. Seorang warga, Safiudin, menceritakan bagaimana air tak hanya berasal dari hujan lokal, tetapi juga limpasan dari Bukit Biru dan Pesut, menumpuk di Jalan Belida yang berada di dataran rendah.
Bencana ini juga melanda Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan. Puluhan rumah terendam air. BPBD Kutai Kartanegara bersama relawan dan warga bahu-membahu melakukan evakuasi serta pembersihan sisa material longsor. Beberapa alat berat dikerahkan, listrik padam di beberapa titik dan aparat gabungan dikerahkan untuk mengamankan area terdampak.
Dilansir dari Tribun Kaltim, Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti, menyebut longsor di inlet tunnel dipicu dua faktor utama. Yakni hujan ekstrem berkepanjangan dan timbunan tanah longsoran lama atau talus deposit di atas lereng. (https://kaltim.tribunnews.com/2025/05/13/banjir-kepung-wilayah-kaltim-genangan-air-rendam-samarinda-kukar-hingga-bontang, Tribun Kaltim, 2025)
Sejak Februari, tim geologi telah menemukan potensi pergerakan tanah ini, namun pergerakan besar baru terjadi setelah curah hujan tak henti menghantam area itu. Ia juga mengingatkan warga agar lebih waspada, terutama yang tinggal di sekitar pohon besar yang rawan tumbang.
Dari sumber yang sama, pakar tata ruang Universitas Mulawarman, Dr. Irwan Syafrizal, menilai bencana kali ini menjadi alarm keras bagi Samarinda. Ia menyebut kota ini selama ini terjebak dalam persoalan klasik. Mulai dari tata ruang yang diabaikan, drainase yang tak memadai, hingga pembangunan yang kerap melupakan risiko bencana hidrometeorologi.
Di tengah puing dan genangan yang mulai surut, Samarinda kembali berbenah. Warga membersihkan rumah, menyelamatkan sisa perabot, dan berharap langit esok lebih ramah. Bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai, lereng rawan longsor, dan kawasan langganan banjir, hujan bukan sekadar cuaca. Ia selalu datang tanpa aba-aba, membawa ancaman bagi rumah, keluarga, dan hidup yang telah mereka perjuangkan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin