ISU Sampah yang semakin mengkhawatirkan, terutama di perkotaan padat penduduk, menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. Pertumbuhan populasi dan konsumsi berlebihan mempercepat peningkatan volume sampah, sementara infrastruktur pengelolaan masih terbatas. Sampah yang tidak terkelola mencemari lingkungan, mengancam kesehatan, dan memperburuk perubahan iklim. Di tengah kondisi ini, generasi muda, khususnya Gen Z (kelahiran 1997-2012) dan Millennial (1986-1996), mulai mengadopsi gerakan zero waste sebagai solusi. Dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang dan beralih ke produk ramah lingkungan, mereka berkontribusi dalam mengurangi limbah dan menjaga kelestarian bumi.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diakses pada pukul 07.10 Wita, 5 Februari 2025, total sampah di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2021, Indonesia menghasilkan 68,5 juta ton sampah. Angka ini meningkat pada tahun 2022 menjadi 70 juta ton. Selanjutnya, pada 2023, total sampah yang dihasilkan mencapai 72 juta ton dan pada tahun 2024, jumlahnya diperkirakan mencapai 74 juta ton.
Peningkatan volume sampah tidak hanya terjadi dalam skala nasional, tetapi juga di tingkat regional, termasuk di Kalimantan Timur. Berdasarkan data dari BPS Kalimantan Timur, pada tahun 2021, provinsi ini menghasilkan 1,8 juta ton sampah. Angka tersebut meningkat pada tahun 2022 menjadi 1,9 juta ton dan pada tahun 2023 mencapai 2 juta ton. Sementara itu, pada tahun 2024, total sampah yang dihasilkan diperkirakan mencapai 2,2 juta ton.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, generasi muda menerapkan gaya hidup zero waste yang bertujuan meminimalkan produksi sampah. Konsep ini mencakup lima prinsip utama: Refuse (menolak barang sekali pakai), Reduce (mengurangi konsumsi), Reuse (memanfaatkan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (mengompos). Langkah-langkah ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mengurangi dampak buruk limbah terhadap lingkungan.

Survei Jakpot pada 16 sampai 17 November 2023 mengungkapkan bahwa dari 931 responden yang dari kalangan Milenial dan Gen Z, 78 persen tertarik mengikuti gerakan zero waste. Sebanyak 94 persen menyatakan alasan utamanya adalah menjaga kelestarian bumi, 48 persen ingin melindungi lingkungan bagi generasi mendatang dan 22 persen tertarik dengan produk eco-friendly. Partisipasi aktif generasi muda juga terlihat dalam kebiasaan sehari-hari, seperti penggunaan tote bag (55 persen), tumbler (55 persen), dan pengurangan plastik sekali pakai (54 persen).
Dampak positif gerakan zero waste juga terlihat dari penelitian Cahya Rukmana Putri dan rekan-rekannya mengenai Program Kampung Zero Waste (KZW) di Surabaya. Program ini berhasil mengurangi timbulan sampah melalui berbagai inisiatif seperti pembuatan komposter alami, ecobrick, daur ulang, dan bank sampah. Pengurangan sampah ini menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah berkelanjutan.
Meskipun Gen Z dan Milenial semakin aktif mengadopsi gaya hidup zero waste, muncul pertanyaan apakah kepedulian ini benar-benar didasari kesadaran lingkungan atau hanya sekadar mengikuti tren (FOMO – Fear of Missing Out).
Fenomena ini terlihat dari maraknya penggunaan tote bag dan tumbler. Meski dianggap sebagai solusi, dalam beberapa kasus justru menciptakan masalah baru. Penggunaannya yang berlebihan tanpa memperhitungkan dampak produksi dan daur ulang bisa menjadi kontraproduktif.
Selain itu, tidak sedikit individu yang hanya berpartisipasi dalam gerakan ini secara selektif. Misalnya, mereka menghindari plastik sekali pakai, tetapi tetap konsumtif dalam aspek lain.
Jika kesadaran lingkungan hanya menjadi bagian dari tren sosial tanpa pemahaman mendalam, efektivitas gerakan zero waste dalam jangka panjang bisa dipertanyakan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang lebih luas agar gerakan ini tidak hanya menjadi gaya hidup sementara, tetapi benar-benar berdampak positif bagi lingkungan. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin