Pergeseran Paradigma: Gen Z Lebih Memilih Pengembangan Diri dari pada Pernikahan

kaltimes.com
15 Feb 2025
Share

PERNIKAHAN Di Indonesia tradisionalnya dianggap sebagai tonggak penting dalam kehidupan, namun pandangan ini mulai berubah, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z). Dibesarkan di era digital yang penuh informasi, Gen Z lebih berhati-hati dalam memandang pernikahan, dengan banyak dari mereka memilih untuk menunda atau bahkan menganggap pernikahan bukan prioritas utama. Faktor-faktor seperti stabilitas finansial, kesiapan mental dan keselarasan nilai menjadi pertimbangan utama, mengingat mereka lebih fokus pada pengembangan diri, pendidikan dan karier.

Hal itu berpengaruh terhadap pandangan Gen Z dalam melihat pernikahan di usia dini. Gen Z lahir di antara 1997 hingga 2012. Sebagian Gen Z masih berada di bawah usia 20 tahun. Mereka termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap pernikahan anak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diakses pukul 17.28 Wita, 4 Februari 2025, mencatat penurunan angka pernikahan anak di kalangan perempuan usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun. Pada 2020, angka ini tercatat sebesar 10,35 persen, kemudian menurun menjadi 9,23 persen pada 2021. Lebih lanjut turun lagi menjadi 8,06 persen pada 2022. Penurunan ini mencerminkan kesadaran yang lebih tinggi di kalangan Gen Z akan pentingnya pendidikan dan kesiapan fisik serta mental sebelum menikah.

Penurunan ini juga terlihat di Kalimantan Timur. Menurut laporan Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kalimantan Timur, jumlah pernikahan anak yang tercatat berkurang dari 0,96 persen pada 2020 menjadi 0,67 persen pada 2022. Ini menunjukkan adanya upaya yang lebih intensif untuk mengurangi pernikahan usia dini dan meningkatkan kualitas hidup serta pendidikan bagi perempuan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh IDN Research Institute terhadap 602 responden dari 10 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, dan Makassar, mayoritas Gen Z yang kini berada di usia awal dewasa belum menikah. Hanya 2 persen responden yang sudah menikah, sementara 36 persen menyatakan niat untuk menikah di masa depan. Sebagian besar, yaitu 62 persen, menganggap pernikahan masih jauh dari prioritas mereka.

Fenomena ini sejalan dengan temuan dalam Journal of Marriage and Family (2019). Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa Gen Z lebih memprioritaskan kebebasan individu dan pengembangan diri, serta cenderung menunda pernikahan hingga merasa benar-benar siap secara emosional dan finansial. Dengan demikian, pernikahan bukan lagi menjadi prioritas utama bagi Gen Z, melainkan sesuatu yang dapat ditunda atau bahkan dihindari jika dianggap tidak sesuai dengan tujuan hidup mereka.

Walaupun penting untuk mempersiapkan diri sebelum menikah, penundaan yang terlalu lama dapat berdampak buruk. Masih darai sumber jurnal yang dirilis pada 2021 menyebutkan, semakin lama seseorang menunda pernikahan, semakin besar kemungkinan mereka tidak memiliki anak. Hal ini akan berakibat pada keseimbangan demografis dan mengganggu ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, meskipun persiapan yang matang penting, harus ada keseimbangan agar dampak negatif tersebut tidak terjadi.

Penurunan minat terhadap pernikahan di kalangan Gen Z disebabkan oleh kecenderungan mereka untuk lebih fokus pada pengembangan diri. Generasi ini mengutamakan kesiapan fisik, mental, dan finansial sebelum memutuskan untuk menikah, dengan mayoritas memprioritaskan pendidikan, pengembangan diri dan karier.

ata BPS menunjukkan adanya penurunan angka pernikahan dini, yang mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya persiapan matang sebelum menikah. Selain itu, survei dari IDN Research Institute mengungkapkan bahwa sebagian besar Gen Z belum menikah dan tidak menjadikan pernikahan sebagai prioritas utama dalam hidup mereka.

Meskipun penting untuk menunda pernikahan demi kesiapan, terlalu lama menunda dapat memengaruhi struktur demografis dan berpotensi memperburuk masalah sosial dan ekonomi di masa depan suatu bangsa atau negara. Oleh karena itu, pemerintah perlu mendukung kebijakan yang mendorong pernikahan pada usia yang lebih matang, seperti memberikan insentif finansial atau program pendidikan keuangan dan keterampilan bagi pasangan muda. Kebijakan ini dapat membantu Gen Z merasa lebih siap menikah tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi mereka. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin