Pekerjaan Tetap Jadi Prioritas, Publik Indonesia Tempatkan Pernikahan di Urutan Bawah

kaltimes.com
19 Agu 2026
Share
Ilustrasi

KALTIMES – Survei global Life Aspirations 2026 yang dirilis Ipsos mengungkap pergeseran pandangan masyarakat mengenai standar kesuksesan hidup.

Riset yang melibatkan 22.693 responden berusia di bawah 75 tahun dari 30 negara ini merekam bahwa stabilitas ekonomi dan kemandirian tempat tinggal kini menjadi fokus utama publik, melampaui pencapaian personal konvensional seperti lembaga pernikahan.

Berdasarkan hasil riset tersebut, memiliki pekerjaan tetap bertahan sebagai simbol kesuksesan tertinggi yang dipilih oleh 65% responden dunia. Memiliki rumah sendiri—baik secara tunai maupun Kredit Pemilikan Rumah (KPR)—berada di posisi kedua dengan 58%, disusul langkah pindah ke rumah sendiri sebesar 35%.

Di Indonesia, indikator pindah ke rumah sendiri justru menjadi pilihan teratas publik untuk menandai kesuksesan hidup, yakni mencapai 53%.

Sementara itu, peran sebagai orang tua berada di urutan keempat dengan angka 41% secara global, di mana Malaysia mencatatkan persentase tertinggi sebesar 47%.

Menutup lima besar indikator kesuksesan, opsi menikah menjadi prioritas terakhir yang hanya dipilih oleh 25% responden secara keseluruhan.

Tren ini terlihat paling menonjol di Indonesia; hanya 10% publik dalam negeri yang menilai pernikahan sebagai kriteria sukses, menempatkan Indonesia di posisi terendah di antara seluruh negara partisipan.

“Menikah tentu tetap menjadi pertimbangan, tetapi memastikan fondasi ekonomi dan kemandirian hidup yang kokoh jauh lebih krusial sebelum memutuskan membangun keluarga,” ujar Dicky, karyawan swasta di Balikpapan.

Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menunda pernikahan sejalan dengan temuan data nasional. Meski pernikahan selama ini dianggap sebagai fondasi stabilitas sosial, tren waithood kian menguat.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi penurunan angka pernikahan sebesar 28,63% dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini didorong oleh kehati-hatian dalam memilih pasangan hidup serta komitmen generasi muda untuk mengamankan kemandirian ekonomi sebagai prioritas utama. (*)